Masih (mau) bertahan ?

Ini salah satu cerita dari banyak cerita yang saya alami sebagai salah satu alasan kenapa saya masih (mau) bertahan untuk tetap mendoakan Si Nona Manis sampai sekarang (19 Februari 2016). Sebagai perhatian khusus, setiap kita punya cerita cinta masing-masing yang Tuhan tuliskan, jadi kita tidak bisa berpatokan pada satu cerita atau pedoman saja. Terlalu sayang bila Allah yang begitu luar biasa romantisnya dibatasi dengan pemikiran dan pandangan manusia yang pendek nan tertutup. cerita inipun sedikit melayang-layang diudara, oleh karena itu sebagai pusat yang paling utama adalah kita harus punya Hubungan Pribadi dengan Allah secara intim, bukan karena cerita orang tapi karena kita benar-benar mengenal Allah, Yang Maha Segalanya.

Sebagai latar belakang cerita, mulai akhir desember sampai akhir februari, saya tidak berkomunikasi secara intens dengan Nona, dan saya tau Nona lagi menyukai kakak tingkatnya yang (mungkin) juga tertarik pada Nona, jadi aku mah apa atuh, mahasiswa FIB yang dapet panggilan jadi hamba Tuhan. secara tidak langsung dan lama-kelamaan, saya semakin tersingkir, hilang dan terlupakan. dari chat yang cuma di read aja, akhirnya lama-lama jarang ngechat juga karena takut dan gengsi reputasi jadi hamba Tuhan nanti hancur *hahahaha* , tapi sejak tanggal 26 desember lalu, sampai sekarang tiap bangun pagi atau saat Tuhan bangunkan, selalu Si Nona yang tersebut dalam doa.

Hingga pada satu titik, saya merasa mulai lelah dan menyerah.

Pada suatu sabtu diawal februari, seperti biasa saya dan Rudi Gultom pergi ibadah di Getsemani, selama di ibadah Pembicaranya menyampaikan Firman dari mazmur 23. yang salah satu ayatnya berbunyi

sekalipun aku berjalan dalam LEMBAH KELAM, aku tidak takut sebab ENGKAU BERSERTAKU.

Dari dalam hati saya berkata ‘sepertinya saya sedang tidak berjalan dalam lembah kelam’, karena lagi sibuk-sibuknya bimbingan untuk persiapan sidang, dan saya tidak merasa tertekan dan nyesek, namun setelah itu otak manusia saya berpikir.

bukankah keadaan harapanmu pada Nona seperti dalam Lembah Kelam ?
bukankah kenyataan yang ada saat ini seperti dalam Lembah Kelam ?bukankah sepertinya semua doa-doamu seperti tidak di jawab Tuhan itu seperti dalam Lembah Kelam ?

Dan saya berbicara dengan Tuhan, dengan lembutnya Dia menjawab.
Me : Saya, RK : Roh Kudus

Me : Udahlah ya Tuhan, gausah dipertahanin lagi si Nona, toh aku juga dicuekin terus ama dia
RK  : Emang Aku sudah bilang untuk mundur ?
Me  : Belum sih Tuhan, tapi tuh liat keadaannya, udah ga ada harapan lagi deh, mundur aja deh, gausah dipertahankan dan didoakan lagi ya.
RK   : apa Aku sudah bilang untuk mundur ?
Me  : Enggak sih.
RK   : Apa kamu kurang percaya dengan ke-Maha-Kuasaan-Ku ?
Me  :  . . . . . .diem *udah siap mewek*
RK   : Apa kamu sudah kehilangan pengharapan didalam Aku ?
Me   : #habis#

Kebetulan WL+Pemusik sedang membawakan lagu dari Pdt. Ir. Niko N – Sekalipun aku (berjalan) dalam lembah kelam. yaudah suasana sudah semakin mendukung, cuma bisa diem dengan air mata membanjiri pipi, udah ga peduli dikiri ama dikanan, I am crying like a child.  I just totally surender Lord.

Kalau sebelumnya sering nangis karena Tuhan suruh untuk melepaskan seseorang yang secara kehendak pribadi ga ingin dilepaskan, tapi baru kali ini nangis karena Tuhan suruh untuk tetap bertahan mendokan si Nona, padahal secara kehendak yaudahlah, ga ada harapan ini.

Yang jadi poin pengalaman ini adalah, saya tidak tahu nanti apakah saya akan bersama Nona atau tidak, saya tidak perduli dengan hal itu meskipun dari dalam hati saya, saya sangat teramat mengasihi Nona. Saya memang berharap saya bisa bersama Nona, tapi diatas semuanya itu, Kehendak Tuhan yang harus jadi dalam hidup saya, bukan kehendak saya sendiri. Siapapun yang saya inginkan jadi pendamping saya, yang pasti adalah SIAPA YANG TUHAN TETAPKAN BUAT JADI PARTNER HIDUP SAYA, itu yang akan bersama saya sampai pada kekekalan nanti.

Jadi, Masih (mau) bertahan ?

YA TUHAN, SAYA MAU 🙂

Leave a Reply