Love Actually: ketika Kamu (masih) Percaya Cinta itu Kekuatan | Film Review

Cinta lagi-cinta lagi. . . haissskwjajhaowhalahdajk

Hadeeeh, baperan nih yeee, dasar lemah wkawkabaasuaawpadashdakontoru

Mungkin klise sekaligus naif, tapi sampai saat ini glorifikasi cinta dan romantisasi tentang banyak hal menjadi hal yang paling laku, bersaingan dengan agama. Ya cinta dan agama memang jadi bagian hidup dari manusia, itu tidak dielakkan lagi.

Tapi kalau disuruh pilih, mana film bertemakan cinta favorit aku? Kalau dirangking, film romance mana yang paling menduduki tingkat paling atas, aku dengan mudah akan menjawab Love Actually.

The thing about romance is people only get together right at the very end | Love Actually

Meskipun film ini sudah sangat lama rilis, bahkan sudah ada sebelum era internet booming, sebelum video Diwan Beli Ikan Cupang jadi trending nomor satu di Youtube dan juga bahkan sebelum sistem Android belum diluncurkan secara masif di Indonesia palagi perang sama Huawei, Love Actually sudah berada di hati banyak orang pada saat itu. Dan sekarang menyentuh hati saya.

Dari sekian banyak film yang sudah ditonton, Love Actually ini jadi deretan teratas untuk film bergenre romance. Tontonlah, maka kamu akan tahu kenapa saya memilih film Love Actually sebagai best love movie ever. Inget BEST LOVE MOVIE EVER. Sampai sekarang masih belum ada film dengan premis yang sederhana, didelivery dengan tenang tanpa neko-neko, dan eksekusi yang begitu manis, belum lagi ini film romance, tentu tidak ada adegan darah-darahan, jump scare apalagi tembak-tembakan.

Why does Love Actually?

Let’s get the shit kicked out of us by love! | Love Actually

Tapi sebelumnya disclaimer dulu, aku ga akan cerita banyak tentang film ini tapi bercerita tentang apa yang didapatkan usai menonton film ini.

Keunggulan dari film Love Actually itu tidak hanya menceritakan satu kisah seperti Romeo and Juliet, Snow White, Aladin, Rapunzell, dan banyak film yang berfokus pada satu pasangan yang berjuang untuk impiannya bisa bersama dengan dia yang disayang. Di film ini tidak ada tokoh utama tunggal dengan satu premis.

Tapi lebih dari itu, Love Actually mengisahkan tentang banyak orang di berbagai kehidupan normal dengan banyak cerita. Tentang rekan kerja yang diam-diam jatuh cinta, tentang laki-laki yang menemukan cinta dalam hidupnya, tentang anak kecil yang baru pertama kali jatuh cinta dan merasa cintanya sudah ditolak sebelum diutarakan, tentang orang yang diam-diam mencintai kekasih sahabatnya sendiri, bahkan tentang Perdana Menteri Inggris yang bisa jatuh cinta, orang nomor satu di negara itu, tunduk karena cinta. Iya cinta memang seperti maut yang mematikan.

Worse than the total agony of being in love? | Love Actually

Love Actually juga bercerita tentang bagaimana orang-orang memilih hidup dengan beragam keputusan yang berbeda, ada yang memilih untuk berjuang karena cinta, dan juga tentang orang-orang yang memutuskan berhenti maju dari cintanya dan dengan tenang berkata “enough”. Tidak ada yang salah dengan hal itu, toh hidup itu pilihan, right?

Film ini secara garis besar memberitahukan kepada kita bahwa ada banyak cerita tentang cinta, dan kamu tidak bisa mencoba satu pola tertentu dari pasangan tertentu menjadi kisah yang kamu alami. Dalam cinta, kita semua punya cerita yang berbeda, dengan pertemuan yang tidak diduga-duga, hingga akhir yang terlihat di luar rencana.

Cinta itu seperti hidup, bagaimana satu-satunya kepastian di sana adalah ketidakpastian itu sendiri.

Pengemasan dan deivery cerita film ini sangat menarik, sangat jarang sekali film dengan durasi yang cukup panjang membangun set up, konflik dan ending dengan begitu manis dan epic. Di tiap masing-masing cerita juga dikemas dengan santai dalam berbagai sentuhan komedi yang bikin hatimu tentrem, konflik-konflik yang ditawarkan juga tidak terlalu pelik, ya iya, tidak tidak, as simple as that, mungkin di sini kelemahan film ini.

Dari Love Actually, kita juga bisa tahu bahwa cinta menjadi satu kekuatan yang juga kelemahan, bagaimana mereka mendapatkan semangat baru mendobrak sebuah tirani batas-batas yang seharusnya tidak perlu dipasang.

I had an uncle called Terence once. Hated him. I think he was a pervert. But I very much like the look of you | Love Actually

Tetapi cinta juga yang menyadarkan ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar hidup bersama, ada mereka yang memilih menguburkan hasrat dari cinta di dalam hatinya untuk hal-hal yang mereka anggap lebih penting, dan di film ini hal-hal tersebut sangat touchable.

Lalu apa kelemahan film ini? Rasanya tidak ada film yang sempurna, karena satu film bisa dilihat dari sudut pandang yang beragam, meskipun itu disebut-sebut sebagai film terbaik.

Film dengan durasi 2 jam 14 menit itu tidak mampu menggambarkan segalanya. Cinta memang tidak semudah dan membahagiakan seperti itu, masih banyak realita yang perlu kamu hadapi di dunia nyata, permasalahan cinta saja sudah cukup pelik dan kamu harus bersiap dengan keruwetan hal-hal lainnya.

Di dunia nyata kamu masih perlu menghadapi hidup kerja dengan gaji yang belum seberapa dengan tuntutan yang lebih dari seberapa juga, kesulitan mencari kerja, berantemnya cebong-kampret yang tak pernah usai, permintaan orang tua yang pengen kamu jadi PNS, mulai comparing dengan teman yang kamu lihat setingkat lebih tinggi dari kamu sendiri, bacotan tetangga kenapa kamu belum nikah, julidan temen sendiri yang menikam dari belakang dan masih banyak drama-drama yang kamu usahkan lagi.

Ya comparing kehidupan film dengan durasi 2 jam 15 menit dengan hidupmu berdurasi belasan hingga puluhan tahun itu not fair enough.

Tell her that you love her. You’ve got nothing to lose and you’ll always regret it if you don’t | Love Actually

Kamu mungkin menikmati cerita dan banyak peran yang ada di film ini, karena memang Love Actually adalah film yang sangat bagus, namun kamu jangan lupa untuk tetap injak bumi hingga lupa diri keadaan kita yang sebenarnya.

Film ini sebenarnya banyak mengglorifikasi tentang cinta itu sendiri, padahal di spektrum yang berbeda banyak tragedi yang hadir karena cinta itu sendiri. Jadi cinta itu sebenarnya tidak hanya menceritakan tentang kebahagiaan hati, tetapi juga tragedi.

Pada dasarnya, cinta bekerja dengan membentuk ilusi, dimana kamu berada di ruang-ruang yang mengasumsikan bahwa kamu adalah pusat dunia, seluruh makhluk memperhatikan dirimu, dan dengan pikiran dan asumsimu, kamu punya kekuatan mengendalikan semuanya, mulai dari orang-orang yang tidak suka kepadamu mendapatkan celaka, mengendalikan dia yang kamu suka jadi suka balik sama kamu, perang dagang AS-Tiongkok, ribut sistem zonasi sekolah, drama Lucinta Luna sampai perang teori kenapa Deddy Corbuzier bisa masuk Islam.

to me, you are perfect, and my wasted heart will love you until you look like this | Love Actually

Dengan imajinasi kita bisa menuju tempat yang tak terbatas dan melampauinya tapi jangan lupa untuk menjadi manusia, karena ketika kamu mulai berdelusi itu sama saja bunuh diri.

Kembali ke Love Actually lagi, film ini bisa jadi pilihan tontonan untuk kamu, rasanya 2 jam 15 menit menonton film ini lebih berguna untuk kesehatan mentalmu daripada skrol-skrol Instagram yang sebenarnya itu-itu saja, dan liat Ig Story orang lain yang malah menambah rasa insekyuritas diri kamu dan juga berharap nama dia yang kamu puja ada dalam daftar seen-list di story mu. Halaaaaah ramasyoook, mbelgedes asu.

Leave a Reply