LEPAS LANDAS: Menuju Masa Depan dan Melampauinya.

pexels.com

Udah hampir sebulan gue pindah ke Solo, setelah mencoba bertahan 7 tahun di Semarang akhirnya  garis kehidupan membawa gue ke tempat yang berbeda lagi.

Untuk tipe orang yang setia bahkan dengan tempat dan menu makan, bukan hal mudah buat gue untuk ninggalin Semarang, walaupun jarak Solo-Semarang cuma tiga jam doang. Ya itu salah satu pertimbangan gue cari tempat yang ga jauh dari Semarang sih. Semarang masih menjadi tempat yang berkesan buat gue, gitu juga dengan orang-orangnya.

“Hidup bagaikan pesawat kertas”

Perasaan sedih paling menyiksa itu ketika angkut-angkut barang, kebetulan waktu itu dibantu sama komsel Toxic, thanks Xa, Wil.

Dari Semarang ke Solo, gue angkut barang-barang Axa sama Wiliam pun ikut. Selama perjalanan dari Semarang ke Solo itu perjalanan paling rame, padahal isinya cuma tiga orang doang.

Kita ketawa, kita curhat, kita menertawain diri sendiri, kita julidin orang, kita mempermalukan diri sendiri, itu perjalanan buka aib sendiri dan orang lain.

Sampainya di Solo, kita ga langsung ke kost an tapi makan di SS Manahan dulu.

Selesei makan baru kita ke kost, nah sejak dari tempat makan sampe kost gue cuma bisa diem di mobil.

“Anjir, seseknya kaya gini ya” ucap gue dalam hati.

“Terbang dan pergi membawa impian”

Gue bisa diem sambil merenungi bentar lagi gue bakal berpisah dengan dua manusia toxic kurang ajar ini, belum lagi dengan dedek-dedek emesh yang di Semarang.

Kita pindah-pindahin barang dari mobil ke kost a, tapi hati masih di tempatnya, lengkap dengan kepingan-kepingan yang pecah karena harapan kosong itu.

Akhirnya mereka pamit dan pulang, dan tinggal gue sendiri di Solo, istirahat dan besok adalah hari pertama gue kerja.

Malam itu adalah salah satu malam yang menyiksa buat jiwa gue, gue chat dan telpon orang yang dianggap dekat untuk menemani malam itu,

Ini udah dua minggu kerja di Solo, dan thanks God gue bisa merasakan dan melihat banyak alasan untuk bersyukur.

Disini gue makin terbiasa sendiri, dalam dua minggu udah tiga kali nonton sendirian di Bioskop di Solo Square padahal dulu kalau bukan film yang bener-bener serius ya pasti ngajak-ngajak seenggaknya satu orang.

I think Solo is the nice city, ada kehangatan di dalamnya.

Ada banya hal yang seenggaknya bikin gue ga tersiksa disini.

Kebetulan depan kantor gue itu daerah persawahan jadi ga terlalu sumpeklah buat pekerja, terus gue ngekost di perkampungan tanpa wifi, disini gue bisa lebih konsen buat baca dan mempersiapkan kepentingan hidup gue pagi dan sore bisa baca masing-masing satu bab dari buku yang beda. Kerja’an pun cuma baca dan nulis doang.

“Sekuat tenaga dengan hembusan angin”

Kost annya pun terhitung murah 400 ribu perbulan terlihat lebih luas dari yang di Semarang dengan kamar mandi dalam.

Dan yang paling enak adalah makanan disini lebih murah di Semarang, tapi emang ada beberapa makanan yang harganya sama di Semarang.

Barusan aja tadi pagi, gue coba beli makanan buat sarapan di kantor, ada nasi, mie goreng sama sayur terus ditambah dengan suwiran ikan bandeng.

Gue tanya harganya berapa bu ?

4000 mas.

WHAT THE HEEELLLL EMPAT RIBU GAES

BIAR GA MBLERENG GAES.

I think i will love this city

Oh iya, even udah kerja justru pengeluaran gue buat makan malah lebih kecil dariapada waktu di Semarang. Disini gue paling banter ngeluarin duit 15 ribu doang buat makan. Belum lagi udah nemu ibuk-ibuk penjual nasi yang super duper murah, bisa bawa luch box buat kerja.

“Terus melaju terbang
Jangan bandingkan jarak terbangnya”

Dan di Solo karena ga punya temen, jadi bener-bener bisa menikmati waktu dan mulai menyusun rencana buat kedepannya seperti apa.

Waktu di Semarang dulu pasti ada aja yang ngajak makan, ngajak nonton, ngajak keluar jadi bersyukur juga bisa lebih berfokus dengan diri sendiri dan sekarang bener-bener semuanya sendiri. Balik dari kantor istirahat bentar terus baca buku, nulis, belajar. Sungguh gangguan itu emang semakin kecil, paling cuma handphone doang, itupun banyak banget chat yang diabaikan *duh maap yak*.

Gue seperti lagi keluar dari zona nyaman yang nyaman buat gue, walaupun kerja masuk jadi 7 pulang kadang jam 4 bisa setengah 5, enjoy dengan pekerjaan ini, sama sekali ga ada beban apalagi stres out.

Baca Alkitab udah jadi rutin lagi, bahkan dengan program renungan dengan tema-tema berbeda tiap minggunya, minggu ini gue lagi baca renungan dengan tema “HOPE WHEN IT HURT”.

Dengerin musik juga lagu-lagu Hillsong doang kalo enggak lagunya pak Niko, beda kasus kalo lagi jatuh cinta atau patah hati kali ya, Sampai Jadi Debu sama Film Favorit pasti.

Disini juga kayaknya gue bakal jadi lebih sehat, soalnya motor ditinggal di Semarang jadi berangkat sama pulang kerja jalan kaki, lumayan jauh sih sekitar 1,3 kilometer, kalo jalan kaki sekitar 15 menit lah dengan pace yang agak cepet.

Duh pokoknya banyak deh yang bikin gue bersyukur bisa berada disini.

Gue pikir kayaknya sekarang saatnya gue buat lepas landas. Bukan sekedar berjalan tapi melesat dengan kecepatan tinggi.

Bukan terbang atau pergi kemana ya, tapi benar-benar mengambil satu langkah kecil untuk sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Gue redefine lagi rencana seenggaknya dalam dua tahun kedepan seperti apa, apa aja yang mau gue lakuin, target apa yang harus gue raih, enggak banyak tapi emang sekarang sudah saatnya gue buat cepat landas.

Untuk urusan asmara kayaknya bakal jadi second priority, bukan diabaikan bucin (budak micin) kaya gue mana bisa lepas dari CENTAH. Tapi seenggaknya disini bisa lebih fokus, di sana ada-ada aja yang bikin perasaan melayang lalu tiba-tiba dihancurkan tanpa bertanggung-jawab begitu saja.

Belum lagi kemarin gue belajar financial planning, gue baca buku ‘Make it Happen’ dan benar-benar membuka mata banget, mulai mempelajari tentang reksadana, investasi saham, SBR, dan apa-apa aja yang harus dipersiapkan.

“Tapi bagaimana dan apa yang dilaluinya
Karena itulah satu hal yang penting
S’lalu sesuai kata hati”

 Gue ngerasa langkah kaki gue satu langkah lebih dekat ke visi yang sangat besar itu, gue siap untuk lepas landas.

Idealisme gue belum hilang, keyakinan gue belum hancur, dan harapan gue belum gugur, gue siap untuk lepas landas.

Cita-cita dan impian gue sudah tertata, sekarang action untuk meraihnya sedang dilakukan, gue siap untuk lepas landas.

Seeggaknya sudah ada arah kemana gue harus melesat, bekal apa yang harus dibawa dan senjata apa yang sedang dipersiapkan, gue siap untuk lepas landas.

Ambil ancang-ancang, sudah saatnya melesat, gue siap untuk lepas landas.

Pesawat akan lepas landas menuju masa depan dan melampauinya.

Leave a Reply