BalasDi18Spesial2018 : Pemikiran yang progresif dalam relijiusitas

Halo bang Pandji, gue mau ikutan kuis BalasDi18Spesial2018 nih, siapa tau bisa liburan ke Maldives ehe.

source : Pandji.pragiwaksono

Okay. . . Here we go

Dari banyak gagasan yang bang Pandji kemukakan dari setiap spesial show nya, ada satu bit tentang gagasan yang menurut gue penting karena ini sedang happening di Indonesia sekarang. Bit tentang Islam, radikalisme, teori Evolusi. Gagasan yang dikemukakannya kurang lebih seperti ini :

Yang dibutuhkan (Indonesia) saat ini adalah orang, pemikir/cendikiawan (relijius) yang PROGRESIF, orang yang percaya agama tapi tidak anti sains.

Disitu bang Pandji menjelaskan adanya dikotomisasi antara agama dan sains, kalau kita percaya agama kemungkinan besar tidak percaya dengan apa yang sains buktikan, begitu juga sebaliknya. Padahal kita bisa percaya dengan agama dan sains pada saat yang bersamaan, itulah yang dinamakan progresif secara pemikiran.

Sepertinya memang ada kontradiksi antara beragama dan bersains dalam berkehidupan bermasyarakat di Indonesia. Sebagai orang yang dari lahir, hidup dan bertumbuh di Indonesia, gue sadar bahwa narasi tentang relijiusitas itu emang jadi salah satu narasi yang kuat banget di Indonesia. Apakah salah ? belum tentu,  kenapa ? Karena kalau dilihat secara umum tentang fungsi dari agama itu sendiri sebenarnya membawa nilai-nilai kebaikan untuk setiap manusia, sehingga manusia bisa menjalin sebuah harmonisasi yang manis baik antar manusia maupun alam yang ditinggalinya. Narasi agama ini tidak lepas dari kepercayaan akan Tuhan sebagai empuNya kekuatan supranatural atas semesta dan juga kepercayaan akan kehidupan setelah kematian yang (mungkin) tidak bisa dibuktikan oleh sains. Seenggaknya kedua hal ini menjadi landasan bagaimana umat beragama itu sendiri hidup, Adanya kekuatan yang lebih besar (Tuhan) yang mengendalikan semuanya dan kehidupan yang bersifat lebih kekal (surga) membuat orang beragama mencoba taat dan berjalan pada pedoman agama yang dipercayainya itu ; kitab suci.

Progresif dalam pemikiran salah satunya dibutuhkan ketika menafsirkan kitab suci. Hal ini menjadi sesuatu yang substansial karena ketika kita membaca tulisan-tulisan dari kitab suci sendiri, banyak hal yang tidak bisa kita telan mentah-mentah, karena kita bukan hanya sekedar membaca teks, kita juga harus melihat konteks tulisan tersebut baik dalam konteks budaya dan gaya bahasa penulisan, yang terpenting adalah bagaimana relevansinya dalam kehidupan kita sekarang ini, karena kitab suci ditulis ribuan tahun yang lalu yang situasinya mungkin bisa berbeda dengan sekarang tapi dengan nilai dan pengajaran yang sama. Masalah teks kitab suci yang disalahartikan sering sekali terjadi, ada makna-makna idiomatik justru malah diterjemahkan secara literal yang malah artinya menjadi engga sains banget, contoh sederhana teori flat earth yang justru awalnya terinspirasi dari kutipan ayat Alquran dan Alkitab ini.

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu, menurut ukuran.” – (QS.15:19).

Dia yang duduk di atas bulatan bumi, yang penduduknya seperti belalang, Dialah membentangkan langit seperti tirai, dan menghamparkannya seperti kemah untuk ditinggali – Yesaya 40:22

Penafsiran literal ini justru malah berdampak negatif pada tafsir yang sebenarnya. Sebenarnya konspirasi tentang flat earth ini sudah ada sejak lama, dan banyak ilmuan telah membantahnya, yang tertulis dalam kitab sucipun tidak tersurat melainkan tersirat sehingga akan ada tafsiran kesana. Sehingga, yang kita butuhkan adalah imam-imam yang bukan hanya mengemukakan tafsiran yang benar dan relevan namun juga yang bisa membuka perspektif untuk mempunyai kemandirian untuk berpikir dan bertindak dan memahami kalau segala keputusan yang kita buat punya konsekuensinya masing-masing.

Kesalahapahaman yang lain dari orang beragama adalah ketika kita memperlihatkan kebenaran dari kepercayaan kita sendiri secara berlebihan, sehingga kesan untuk menyalahkan dan merendahkan orang lain sangat besar. Jangankan yang berbeda agama, yang berbeda aliran/mazhab dari satu agama saja sudah banyak ributnya. Mereka sama-sama menganggap mazhab yang dianutnya paling benar dan menganggap yang berbeda dari alirannya adalah sesat, bidah dsb. Gimana yang beda keyakinannya kan ya?.  Dalam maiyahannya, Cak Nun (Ehma Ainun Najib) pernah berkata bahwa Kebenaran yang dari Tuhan itu bukan output yang seharusnya ditampilkan, melainkan menjadi bahan dasar untuk berbuat kebaikan sehingga menghasilkan keindahan. Kebenaran bukan menjadi hal yang tidak penting namun justru menjadi bahan yang paling fundamental untuk menciptakan sebuah rangkaian kehidupan yang manis. Harmonisasi itu dibutuhkan dengan nilai dari kebenaran yang kuat, bukan karena merasa benar yang kuat.

Tadi baru kita bicara tentang agama sendiri, belum dipadukan dengan sains, kedua hal ini sepertinya terlihat saling bertentangan. Dahulu, masa sebelum renaissans, sains dikungkung oleh otoritas Vatican. Tidak ada pengetahuan yang berkembang, para imam agama mempunyai kekuatan yang mutlak mengendalikan pemerintahan dan pengetahuan, akibatnya banyak pemikir ilmu pengetahuan tidak mendapat ruang gerak yang bebas, Galileo Galilei terpenjara seumur hidup dan Giordano Bruno dihukum dibakar atas nama iman karena mengembangkan teori heliosentrisnya Copernicus.

Karena agama itu sendiri berbicara tentang keyakinan sedangkan sains bicara tentang bukti ilmiah, apakah saling berkontradiksi ? iya. Kenapa ? karena sains akan terus berkembang dan pengetahuan-pengetahuan baru akan terus ditemukan, keraguan-keraguan pengetahuan sebelumnya akan terus dibuat hipotesa dan kemudian dibuat pengujian-pengujian berikutnya untuk mendapatkan kebenarannya. Apabila cendikiawan agama tidak progresif maka agama tidak akan berjalan kemana-mana. Kecemasan dan ketakutan agama akan sains tentu saja sangat beralasan. Sains berbicara tentang bukti dan kepastian ditakutkan akan menggeser keyakinan manusia akan iman terhadap Tuhan itu sendiri.

Pentingnya sains karena dibutuhkan untuk kehidupan manusia, dari bidang manapun kedokteran, teknik, biologi, geologi atau apapun itu yang bersifat bidang keilmuan akan mempermudah manusia untuk menjalankan kehidupannya. Kita bisa melihat sendiri berapa banyak yang diselamatkan dengan ditemukan obat-obatan, betapa hidup kita menjadi lebih mudah dengan diciptakannya teknologi yang semakin modern.

Terakhir. . .
kenapa progresifisme ini penting dan dibutuhkan di Indonesia, karena narasi kehidupan orang Indonesia berlandaskan agama seperti yang udah gue tulis dibagian awal tadi, namun kita hidup tidak hanya tentang relijiusitas saja, kita juga butuh perkembangan sains dan teknologi yang modern, kalau engga kita hidup seperti orang primitif dan semakin tertinggal. Sehingga kita bisa percaya terhadap agama dan sains bersamaan. Tidak hanya itu, kita bisa menjadi manusia yang teredukasi. Dengan melihat kitab suci dengan lebih mendalam dan update tentang sains, menjadikan rakyat Indonesia teredukasi dengan baik sehingga mempunyai independensi dalam berpikir tanpa meninggalkan nilai-nilai tentang kemahslatan hidup antar manusia.

Beauty in diversity (Source : @Edwardsuhadi)

Lalu, sebagai bangsa yang besar kita membutuhkan kedewasaan yang besar juga. Karena negara kita ini tidak ditopang oleh satu suku/bangsa atau agama saja, melainkan dengan keberagaman. Negri ini terdiri dari banyak suku, banyak bahasa daerah, banyak kepercayaan dan agama. Kesadaran akan perbedaan menjadi hal yang sangat penting sekali supaya tercipta keselarasan yang elok untuk bangsa, bagaimana membuat perbedaan bukan menjadi unsur perpecahan namun menjadi bagian dari serpihan-serpihan kebaikan yang indah. Perbedaan-perbedaan yang tidak memaksakan truth claim nya masing-masing namun justru menghargai setiap prinsip dari masing-masih pribadi. Memang evangelicalism dari agama Abrahamisme (selain Yahudi) ini sedikit agak ngeselin yang kadang bikin masing-masing pihak panas. Tapi ya mau gimana lagi, memang dibutuhkan kedewasaan untuk menghargai orang yang memutuskan pindah keyakinan, bukannya agama itu ditemukan bukan diturunkan kan ?.

Akhirnya, gue menyimpulkan hidup di Indonesia (saat ini) ga akan lepas dari bayang-bayang agama (even you decided to be atheist wkwkwk) dan kita butuh sains untuk memudahkan kita hidup.  Kita memerlukan pragmatisme disini, dimana semua hal diletakkan pada fungsi dan kepentingannya masing-masing tanpa harus saling mengusik. Perspektif yang progresif, tingkat edukasi yang baik dan independensi menjadikan kita manusia yang lebih dewasa dalam menyikapi, sehingga hal-hal buruk yang kita takutkan bisa diminimalisir dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara bisa tercapai.

Stay Excellence

Leave a Reply