Alasan Jangan Sembarangan Memilih Pasangan bg 2

Di tulisan yang sebelumnya saya secara personal sudah bercerita tentang kisah bulek yang akhirnya harus meninggal dalam keadaan ditinggal pergi suaminya, dan anak tertuanya mempunyai luka dan dendam dengan ayahnya sendiri. Ya hal itu bukan tanpa alasan juga, ada bekas sakit yang digoreskan dan menimbulkan dendam yang tersimpan dan bisa meledak kapan saja.

Dari kisah bulek juga saya meyakinkan diri untuk tidak sembarangan ketika memilih pasangan, karena saya tidak ingin menyakiti dan disakiti. Perkara perasaan tentang kedua hal itu kadang sangat rumit dan menguras banyak emosi, perasaan, tenaga dan daya.

Apalagi menjalin hubungan bersama dengan seseorang yang dibungkus dengan komitmen dan perjanjian itu engga cuma 5 atau 15 tahun, tapi selamanya.

Faktanya adalah ternyata peristiwa yang seperti bulek alami ini dialami oleh banyak orang.

Kasus keretakan dan kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia ini jumlahnya tidak sedikir. Dari banyaknya alasan yang terjadi di rusaknya sebuah hubungan ini bermula pada satu titik, yakni ketika banyak orang yang sembarangan memilih pasangan, lalu dengan sembarangan juga memutuskan untuk menikah, kemudian dengan sembarangan dan tanpa perencanaan mempunyai anak. Bila sudah begitu, bom waktu bisa meledak ketika pemicunya tersulut.

Bagaimanapun juga, menikah bukanlah hal yang sepele karena sebelum menikah ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, beberpa perlu diperhitungkan dengan matang, ada emosi dan tanggung jawab yang harus sudah dewasa.

Siapa bilang pernikahan akan jamin masa depan menjadi lebih bahagia? Nyatanya banyak perseteruan antar pasangan yang sudah menikah terjadi sampai pada tingkat yang paling kritis, dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan mereka.

Data yang tercatat di pengadilan agama melihat tren perceraian pada tahun 2015-2017 (data yang tersedia tiga tahun terakhir baru itu)  selalu meningkat.

Pada tahun 2015 tercatat ada sebanyak 394.246 perkara perceraian.

Pada tahun 2016 tercatat ada sebanyak 403.070 perkara perceraian.

Pada tahun 2017 tercatat ada sebanyak 415.848 perkara perceraian.

Mengerikan

Bila ambil rata-rata kasar tanpa hitungan setidaknya ada sekitar lebih 300 ribu pasangan per tahunnya mengajukan gugatan perceraian di Pengadilan Agama.

Dengan data ini berarti ada sekitar 300 ribu lebih pasangan yang sudah gagal dalam hubungan pernikahan mereka. Dan saya yakin angka yang ada sebenarnya jauh lebih besar dari itu, masih banyak sekali pihak-pihak yang masih mencoba bertahan dalam hubungan mereka padahal sudah diujung tanduk, alasannya pun berbagai macam dari yang masih mempunayai harapan, anak hingga menghindari julidan tetangga atau rekan kerja.

Bagaimana? Menyedihkan bukan.

Belum lagi efek yang ditimbulkan dari perceraian itu sendiri. Kalau setiap tahun ada lebih dari 300 ribu kasus perceraian dan setiap orang yang bercerai mempunyai satu anak, ini berarti dalam tiga tahun ada sekitar 1 juta anak yang broken home, atau mungkin kamu adalah salah satu dari 1 juta itu?

Keadaan seperti itu tentu sangat miris sekali. Di satu sisi kita dan media selalu mengglorifikasi romantisme keindahan hubungan antar pasangan, tapi di sisi yang lain ternyata ada begitu banyak orang yang gagal dalam hubungan dengan pasangan mereka.

Jadi, bagaimana untuk menghindari dari perceraian? Ya jangan sembarangan memilih pasangan.

Kasus perceraian yang terjadi di Indonesia ini secara umum terjadi karena ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga mereka dari masalah komunikasi, keungan, sex hingga kemungkinan adanya orang ketiga.

Dan yang lebih parah lagi, tingkat kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia itu sendiri masih sangat tinggi.

Bila KDRT sudah terjadi, yang sering menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Dari data BPS 2017, kekerasan perempuan dalam rumah tangga menempati posisi tertinggi dengan 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada gugatan cerai dari pihak istri.

Unsplash
Marriage when you’re ready, not lonely

Sedangkan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2018 lalu, terdapat 23 kasus kekerasan dengan 16 anak meninggal akibat kekerasan yang terjadi di rumah tangga.

Selain itu, berdasarkan laporan dari Global Report 2017: Ending Violence in Chidhood mencatatkan bahwa sebanyak 73,7 persen anak-anak di Indonesia yang berumur 1-14 tahun mengalami “pendisiplinan” dengan kekerasan yang berbentuk tekanan fisik maupun psikis di rumah mereka sendiri.

Penggambarannya seperti ini, bila ada 100 anak di ruang kelas dengan umur 1-14 tahun, dari 100 anak tersebut 73 anak mendapatkan “kekerasan” dari rumah mereka sendiri baik itu kekerasan secara fisik maupun psikis. Serem kan?

Dan akibatnya adalah anak yang mengalami kekerasan sebelum umur 18 tahun memiliki potensi perilaku negatif ketika mereka beranjak dewasa seperti nakal, merokok, mabuk, keinginan melukai diri dan bunuh diri.

Unsplash
The Kid

Penjabaran data-data ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi inilah kondisi dan realita yang terjadi di sekitar kita. Tujuannya agar kita, kamu dan aku bisa lebih sadar dan waspada bahwa hubungan antar dua orang itu bisa jadi sumber kebahagiaan dan bisa juga menjadi sumber bencana. Apakah akan mendatangkan bahagia atau bencana semua tergantung dari diri kita sendiri.

Di zaman sekarang, kita sering abai karena terlalu sibuk menyiapkan pesta pernikahan tapi lupa kehidupan setelah pernikahanlah yang sebenarnya lebih penting.

Dan mau tidak mau kita harus siap dengan segala risiko yang akan terjadi bila kita tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Capek tau, ketika ada hal-hal yang diluar dugaan harus kita hadapi dengan mengeluarkan banyak perasaan dan emosi.

Peristiwa-peristiwa tentang kekerasan dalam rumah tangga, toxic relationship, abussive, hal-hal itu sebenarnya bisa kita hindari bila kita tidak sembarangan memilih pasangan.

Tidak sembarangan memilih pasangan adalah ketika kita tidak mentoleril hal-hal yang prinsipil yang bisa menjadi bom waktu dan meledak di kemudian hari.

Banyak juga yang memutuskan berdasarkan perasaan mereka atau jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa mengenal dan mengetahui lebih dalam sebenarnya menjadi satu kesalahan yang sangat fatal.

Dan perlu diketahui bahwa sebagian besar kekerasan yang terjadi di pasangan atau keluarga itu dialami oleh perempuan dan anak.

Seorang teman pernah bilang kalau perempuan sering lupa bahwa dia melakukan kesalahan yang sangat fatal ketika memutuskan apakah dia benar “the one” dalam hidup mereka.

Kesalahan terbesar perempuan adalah mereka yakin bisa merubah lelaki yang menjadi pasangannya

Unsplash
The Woman

Ada yang berhasil namun banyak sekali yang gagal malah justru menjadi perangkap yang menjebak pihak perempuan itu sendiri.

Karena merubah seseorang itu bukan tanggung jawab dari seorang pasangan, tapi tanggung jawab masing-masing orang itu sendiri. Bila kamu tidak mau berubah tentu karakter kamu tentu tidak bisa dirubah. Begitu juga dengan (calon) pasanganmu.

Jadi, sebelum kamu benar-benar mau memutuskan apakah dia “the one” untuk hidup kamu, sebaiknya kamu belajar bertanggung jawab untuk diri kamu sendiri terlebih dahulu.

Bertanggung jawab bagaimana bisa jadi yang terbaik untuk diri sendiri

Bertanggung jawab bagaimana menyayangi diri sendiri

Bertanggung jawab untuk bagaimana bisa menjadi mandiri

Bertanggung jawab untuk membentuk karakter pribadi yang lebih tangguh

Bertanggung jawab bagaimana bisa untuk memilih pasangan untuk diri sendiri

Ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan untuk dirimu sendiri, sebelum kamu harus bertanggungjawab dengan pilihan pasangan untuk menjalani kehidupan bersama.

Dengan bertanggung jawab, maka kamu tidak akan sembarangan memilih pasangan.

Leave a Reply