Bayang-bayang Perceraian Dibalik Pernikahan, Kenapa Tidak Dipersiapkan?

Buat kalian yang sudah beranjak di usia 20 an, pasti keinginan untuk menikah sudah mulai muncul.

siapa sih yang ga mau menikah? Selain mereka yang punya gifted untuk hidup melanjang seumur hidupnya, pastinya kebanyakan orang menginginkan untuk bisa hidup berbahagia dengan satu orang kesayangannya sampai selamanya lagi.

Bahkan dalam janji pernikahan orang Kristen hingga maut memisahkan. Tuh kurang romantis apalagi cita-cita manusia Kristen ini.

Tapi, kamu pernah melihat keadaan orang-orang yang menikah belakangan ini? Bagaimana kondisi mereka? Masih sama?

Berapa banyak pasangan yang akhirnya harus berhenti dan berpisah bahkan sebelum maut memisahkan mereka?

Kita bisa lihat orang-orang (mungkin) di sekitar kita yang mengalami toxic relationship bahkan hingga kekerasan dalam rumah tangga, atau juga hubungan-hubungan yang akhirnya harus end-up karena merasa tidak menemukan jalan keluar lagi, jadi diputuskan satu-satu jalan ya hanya mencari jalan lain.

Kita lihat sekarang, banyak sekali kasus divorce terjadi dimana-mana, mulai di lingkungan terkecil kita hingga perceraian yang harus dialami oleh para artis.

Bahkan mereka para yang terlihat dari luar semua terjadi baik-baik saja, jauh dari kata nyari sensasi, punya anak yang sangat menggemaskan, keduanya seperti hidup sesuai dengan visi mereka dan menjadi relationship goal bagi banyak anak muda.

Tanpa ada angin ribut dan hujan dan langsung menjadi viral di sosial media.

Bahkan untuk orang-orang yang tidak mencari drama demi sebuah popularitas dan dikenal sebagai orang baik dan berintegritas saja mempertahankan sebuah hubungan tidak mudah. Apalagi kita.

Terlebih kita yang seringkali menjadi egois dan selalu mementingkan diri sendiri dan marah bila merasa tidak diperhatikan.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Apa yang tidak sengaja kita lewatkan?

Dan apa yang sudah kita lupakan?

DENG DENG

 

Satu hal yang perlu disadari, kebanyakan dari kita mempersiapkan sebuah pernikahan tanpa tahu bahwa dalam setiap pernikahan selalu ada bayang-bayang jurang.

Tidak menyadari atau tidak mau tahu, kita terlalu riuh dengan euforia mempersiapkan segala sesuatunya undangan lah, katering lah, MUA lah, prewed lah, omongan tetangga lah, dan masih banyak lagi.

Kita sibuk bahkan sampai lupa bahwa ada pagar yang harus dibangun tinggi agar 8 hingga 20 tahun kedepan kita untuk kita tidak masuk ke dalam jurang yang bernama perceraian tersebut.

Ah tapi itu kan orang lain yang bercerai, hubungan kami akan baik-baik saja kok, buktinya kami udah bertahun-tahun pacaran kami mampu bisa sampai pernikahan kok.

Heh Biji Kuda Liar, gimana kita bisa tahu hubungan seseorang bisa akan langgeng terus tanpa ada cobaan dan pasang surutnya? Dalam hidup satu-satu nya kepastian ya ketidakpastian itu sendiri.

Kita semua, tidak terkecuali bila menikah akan masuk dalam kemungkinan itu, kemungkinan yang mengatakan bahwa hubungan rumah tangga sedang diujung tanduk yang sangat rentan dan memakan banyak daya, tenaga, emosi, jiwa dan pikiran.

Saat ini, angka perceraian di Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya. Tren angka perceraian selalu naik 3 persen setiap tahunnya. Data yang tercatat di Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung pada periode 2014-2016, angkanya mengalami kenaikan, dari 334.237 perceraian di 2014 lalu naik menjadi 365.633 perceraian.

DAN KASUS ITU BARU YANG DIURUS OLEH PENGADILAN.

Belum orang-orang yang tidak mau dan tidak berani mengajukan perceraian walaupun dirasa hubungan mereka sudah tidak mempunyai nyawa lagi. Masih banyak orang-orang yang sebenarnya tidak mempunyai harapan dalam hubungan mereka. Tidak bisa digeneralisir dan dipastikan, tapi angka nya akan lebih besar dari itu.

Jadi sebelum mempertaruhkan hidup tanpa perencanaan dan bayang-bayang ketakutan itu menjalar dan membuat hidup kita menjadi mati rasa, satu hal tadi yang selayaknya sudah kita tahu, dalam pernikahan ada tali perceraian yang tidak disadari sedang mengikat satu sama lain.

Yang harus dipersiapkan sebenarnya adalah membeli pisau dan mengasahnya agar suatu saat nanti ketika tali itu tiba-tiba menarik kuat kita bisa memotongnya dengan segera sebelum semua daya dan dana mu terbuang untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kamu cegah.

Jadi darimana kita harus mulai semua ini? darimana mempersiapkan pernikahan yang mengantisipasi perceraian?

Bagaimana kalau mulai dari kamu mencari pasangan.

Pada titik inilah semua bermula, seharusnya dari awal menetapkan siapa yang akan menjadi pasangan, sebelumnya kita sudah aware supaya tidak sembrono memilih kualitas dari pasangan kita itu sendiri.

Karena bagaimana pun kualitas dari partner kita akan sangat mempengaruhi akan dibawa kemana suatu hubungan itu tersebut.

Jangan sampai kita memilih seseorang tanpa tahu kualitas dan value hidup dia, mengambil kucing dalam karung sama saja bunuh diri.

Tidak ada kualitas yang ideal, yang pertama lebih dahulu dilakukan adalah naikkan dulu nilai kualitas dari diri kita masing-masing sebelum menemukan dan memutuskan siapa orang yang dikira pantas untuk menjadi teman hidup dan berjalan bersama-sama.

Setidaknya, kualitas seseorang itu ditunjukkan dari tiga hal, (1) prinsip, (2) karakter, (3) kompetensi. Ketiga hal ini harus menjadi satu-kesatuan yang harus kamu lihat dan jangan sampai mentolerir satu celah kecil pun.

Kita harus buka mata lebar-lebar, pertajam pendengaran, dan buat hatimu lebih peka akan dirimu sendiri.

Prinsip itu sendiri pada dasarnya adalah value apa yang menjadi hidupmu, kamu tau nilai yang jelas, kamu mengerti pola pikirnya seperti apa, mindset nya kaya apa dan tentunya  kamu paham kemana tujuan yang akan ditempuh bersama-sama.

Kamu mau buat hidup sama orang yang ga punya prinsip?

Kamu mau bareng orang yang ga punya value hidup, yang ga mengerti apa yang sedang kalian perjuangkan?

Kamu mau kondisi hubungan kalian akan flat dan datar-datar saja?

Tidak ada orang yang menginginkan hal ini terjadi, tapi banyak orang sedang dalam kondisi seperti ini.

Sedangkan persoalan karakter, sudah jelas dong karakter-karakter yang buruk dalam sebuah hubungan seperti itu seperti apa, egois, pemarah, ringan tangan, suka merendahkan, suka menghina, bicar kasar, bad tempramen, ringan tangan, tidak setia, suka berbohong, toxic dan masih banyak lagi tentunya.

Karakter ini seperti serpihan kaca kecil tajam yang menyangkut, sekalinya tertancap di kulit kita langsung saja meninggalkan perih dan bekas.

Kamu mau dapet pasangan dengan tempramental yang buruk, egois, tidak bertanggung jawab, pemarah, suka menghina dan banyak hal jelek lainnya? Tentu enggak pengen sama sekali kan, nah karena itu jangan sekali-kali mentoleril orang-orang yang punyak karakter yang jelek, ingat the power of love isn’t enough.

Yang bilang kekuatan cinta bisa melakukan segalanya itu cuma ada di film dengan durasi sekitar 1,5 sampe 2 jam setengah doang. Sebuah hubungan yang dijalani oleh manusia bisa hancur ketika sudah beberapa puluh atau belas tahun, bahkan banyak yang kurang dari 10 tahun.

Karakter tidak bisa terbentuk dalam waktu yang singkat seperti halnya jatuh cinta yang kadang hanya membutuhkan waktu 10 detik bertatapan saja.

Untuk anak-anak sekitar 20an mereka sudah mempunyai karakter yang tidak sengaja sudah terbentuk dari masa lalunya.Bagus kalau dia sudah punya karakter yang baik. Kalau malah sebaliknya, kamu mau merubah orang yang punya karakter buruk untuk menjadi baik? bisa saja, namun butuh waktu bertahun-tahun juga untuk membuktikannya dengan proses yang jauh lebih tidak mudah dan tidak singkat.

Dan tentunya semua orang pasti punya karakter yang buruk, tidak ada manusia yang bisa menjadi seperti malaikat dalam waktu yang singkat terlebih untuk anak-anak yang masih muda karena EGO KAMI MASIH BESAR KOMANDAN.

Selagi orang itu mempunyai kesadaran untuk memperbaiki dirinya, tidak ada salahnya mendapat kesempatan untuk beberapa waktu, kesempatan yang diberikan tentu saja bisa berhasil dan tidak berhasil, jangan terlalu dipaksakan apabila memang sudah tidak memungkinkan, daripada kamu harus membayar harga yang lebih mahal.

2019 Lebih Chills dan UWU (sc: Unsplash)

Perlu diingat bahwa karakter, prinsip dan nilai kehidupan mempunyai hubungan putus-putus dengan agama.

Agama mempunyai peran yang besar untu membentuk prinsip dan value kehidupan serta karakter yang baik. Namun jangan digeneralisasi bahwa orang yang beragama pasti adalah orang yang berprinsip dan mempunyai karakter yang mumpuni. Hmmmm tidak semudah itu Ferguso asu.

Perihal terakhir adalah terkait kompetensi, kompetensi ini terkait kemampuan/keahlian yang dimiliki oleh seseorang, yang akan berujung pada kemampuan finansial yang bisa dihasilkan.

Semakin tinggi tingkat kompetensi seseorang tentu sejalan dengan pendapatan yang dia terima (seharusnya).

Emang kamu mau pacaran, menikah sama seseorang yang ga bisa ngapa-ngapain? kerjaannya cuma playing victim, menyalahin orang lain (bahkan Tuhan) dan tidak ingin berkembang.

Ingat cinta saja tidak cukup, kamu akan bertemu dengan banyak realita yang sangat brutal dan kejam di luar sana.

Ketiga hal itu lagi, hanya menjadi landasan dasar bagaimana kita memilih dan memutuskan orang yang akan menjadi teman hidup, kekasih, pasangan atau apapun itu namanya untuk berjalan dan berjuang bersama-sama.

Rain does not fall on one roof alone – Cameroonian proverb

Memilih orang yang tepat ini bisa menjadi titik awal kamu mencegah perceraian yang bisa terjadi. Ingat ini baru titik awal, dalam hubungan masih ada hal yang perlu dilewati lagi seperti membangun rasa percaya, komunikasi, love language dan masih banyak hal lainnya.

Karena ini berhubungan dengan dua orang yang berbeda dan berusaha menjadi satu, tentu tahap saling merakit dan mencocokkan sehingga menjadi sebuah sirkuit kehidupan yang menyala membutuhkan waktu dengan banyak pembenahan.

Berat kan. . .

Sama seperti pepatah yang berkata orang yang tidak mau menerima lelahnya belajar, harus siap menerima akibat dari kebodohan.

Begitu juga dengan hubungan, pernikahan, dan kebahagiaan ini. Kamu harus siap dari “lelahnya belajar” daripada harus masuk ke dalam jurang perceraian. Karena akan lebih banyak korban lagi tentunya ketika sebuah hubungan terjun bebas tanpa mempersiapkan apa-apa.

Jadi, ya persiapkan sebaik mungkin, tidak hanya sekedar upacara mewah nan megah namun juga hal-hal yang lebih substansial agar hidupmu tidak terlalu banyak drama-drama receh.

One Reply to “Bayang-bayang Perceraian Dibalik Pernikahan, Kenapa Tidak Dipersiapkan?”

Leave a Reply