Hari ke dua ; Air Terjun Jumog dan Candi Cetho

Lanjutan perjalanan setelah dari cumbri (baca disini kalau belum baca)
Jobs

Satu malam berlalu, akhinya tenaga kami kembali. Perjalanan panjang hari sebelumnya benar-benar menghabiskan tenaga. Pagi ini Lidya masih sangat bersemangat untuk melanjutkan perjalanan lagi, keliatan sekali dia tipe mahasiswa yang kurang piknik wkwkwk.

Kemana kita hari ini kak ?

Duh, ga ada gatau nih mau kemana kita

Gimana kalau kita ke Jogja ?

WTF, Jogja ?

Dihitung-hitung perjalanan Sukoharjo – Jogja, Lalu Jogja-Semarang. Kita hanya punya dua jam berada di Jogja. Karena jam 7 malam kita harus ada di Semarang untuk latihan persiapan ibadah sore di gereja pada hari minggu.

Gimana kalo kita ke karanganyar ? ada air terjun yang bagus deh. Namanya Jumog kmaren pak SBY dan keluarganya sempet main kesana. *ceilah main :”

Yaudah, ayo

Selepas sarapan, kita langsung pamit ke eyangnya Lidy, setelah itu cuss lanjutkan perjalanan.

Daerah Karanganyar kabarnya deket dengan kaki gunung lawu, daerah itu udah masuk ke dataran tinggi, nah kesotoyan gue nganggep kalo karanganyar itu deketan sama Tawangmangu. Bermodalkan papan petunjuk di jalan-jalan seperti sebelumnya, kemana ada nama Tawangmangu jalan itulah yang kami pilih. Tanpa rasa bersalah gue gas itu motor dengan semangat 45.

Perkiraan tentang Karanganyar sama Tawangmangu itu deketan emang bener, ya emang deket sih, tapi kalo dari Solo/Sukoharjo Tawangmangu itu sonoan lagi Karanganyar.

Conclusion is. . . .
kami salah jalan -_-“
Nyaris saja kami masuk kawasan JAWA TIMUR LAGE SODARA-SODARA.
Liat maps, puter-puter hape, akhirnya kami harus puter arah.

Ya mayan jauh juga salah jalannya, tapi enaknya daerah pegunungan itu adalah udaranya dingin, kaya kamu *halah*. Sepanjang perjalanan juga kami enjoy even we through the wrong way.

Sudah memasuki daerah Karanganyar, papan petunjuk arah daerah wisata pun sudah banyak terlihat, Air Terjun Jumog salah satunya. Begonya, kami terus-terusan ngikutin petunjuk dari google maps.

“Iya ini naik terus aja kak” Lidya sedang berperan sebagai navigator kami.

Ya sebagai pengemudi yang ga tau jalan, gue mah ikut-ikut aja lah ya, daripada salah.
DAN SALAH BENERAN.
KOK MALAH KE RUMAH WARGA ?

Petunjuk dari google maps berujung pada jalan buntu dan mentok di rumah orang. Puter balik lagi deh. Sudah tinggi keberadaan kami, harus turun lagi. Setelah bersusah payah, akhirnya kamipun menemukan tempat yang seharusnya menjadi tujuan kami.

“Tapi ini kayaknya buat parkiran bis deh kak “

“jadi kita kemana nih ?”

“Agak sonoan lagi deh”

“OKE SIYAAAAAP”

Beranjak lagi dari yang katanya parkiran bus, menuju parkiran motor. aku mah manut aja sama Lidya.

Dan benar ternyata ada dua pintu masuk. Setelah memarkirkan motor, ga perlu pake lama kita langsung beranjak lagi. Masih semangat-semangatnya coy, ini destinasi pertama. Jalan dari parkiran menuju pintu masuk registrasi sepertinya agak nanjak, lalu memutar dan muter lagi. Tidak ada feeling atau firasat apa-apa saat itu. Udah bisa nemuin tempatnya aja udah seneng banget.

IMG_1407

Bayar registrasi @10.000 lalu kami harus nurunin 116 anak tangga untuk mencapai air terjunnya. Yap seratus enam belas. Kenapa jumlahnya 116 ? ya karena emang jumlahnya 116 ga ada pesan filosofisnya.

IMG_1392
 

Mau tau rasanya menapaki 116 anak tangga ? ya bayangin aja sendiri wkwkwk. 116 anak tangga (sialan) mah ga buat semangat kami turun.

Ini anak tangganya mau diitungin beneran 116 engga de ?

Engga deh kak, kurang kerjaan wwkwkwkwkw

Sampai pada anak tangga terakhir, akhirnya kami sampai di Air Terjun Jumog. Area air terjunnya masih agak masuk kedalam lagi.

Kawasan wisata air terjun jumog ini rapi, bersih, dan terawat. Beda banget dengan kesan wisata alam di Indonesia pada umumnya.

Kesan memasuki area air terjun Jumog ini nentramin banget, udara dingin, dengan gemercik air jatuh, tanpa polusi suara ‘mesin’ dan udara. kebetulan hari itu bukan lagi weekend, jadi ga banyak yang pergi kesana. Ajiblah.

IMG_1409
Ga mau kesini nih ?

Di air terjun Jumog juga ternyata ada kolam renangnya, airnya dari aliran air terjun itu sendiri yang setiap saat mengalir dan berganti. Jadi ga perlu kaporit buat njernihin air kolamnya. Karena kita ga bawa baju ganti dan juga masih ada satu destinasi lagi, ga memungkinkan buat berenang deh.

IMG_1457
tikung tidak yaaa ? LOL

Udara dingin kawasan kaki gunung ini membuat siang menjadi ga terik sama sekali. Tiba-tiba ada satu hal yang kami pengenin ; indomie rebus. Makanan penggoda diudara dingin itu bener-bener jadi candu.

Tapi anehnya, semua warung dan tempat makan di sekitaran lokasi wisata ga ada yang jual indomie rebus, ada nya cuma pop mie. Konspirasi apa ini yang menjadikan indomie menghilang di tempat yang strategis seperti ini.

Tapi maaf, idealisme kami akan indomie rebus ga akan tergantikan oleh pop mie gelas itu. Sudah beberapa tempat makan tapi tetep aja ga ada, kami putuskan untuk pergi ke tujuan selanjutnya ; candi cetho.

DAN KAMI HARUS NAIK KE 116 ANAK TANGGA (laknat) ITU -_-
Tapi, kalo dibandingin dengan trekking di bukit cumbri kemarin sih gada apa-apanya

Sesampainya di pos registrasi awal, kami lihat di belakang pos itu ada pintu. Iseng -iseng kita buka pintu itu dan ternyata ITU ADALAH PARKIRAN MOTOR.

Jadi sebenarnya tempat parkir motor dan pintu masuk registrasi itu sebelahan, dan kami harus jalan memutar.

Gue dan Lidya TERPEDAYA dan merasa bodoh.

Yaudahlah, ga perlu lama langsung ngeluarin motor dan pergi ke candi Cetho. Tapi tetep kita mau nyari indomie rebus dulu.

Dari air terjun jumog, kita harus turun dulu dan masuk ke jalan utama dan abis itu naik di jalan yang berbeda. Di tengah perjalanan kami nemuin gardu pandang yang kayaknya instagram able, yaudah kita berhenti bentar dan poto-poto dulu.

IMG_1478
Gardu Pandang

Trek jalan dari Jumog ke candi cetho terus menanjak dan berbelok. Namun manisnya perjalanan sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan hijaunya perkebunan teh. ngademin deh kaya kamu.

KAK ITU ADA WARUNG INDOMIE

teriak Lidya, dan kita pun menepi sejenak.

Buk ada indomie rebus ?

Ia ada.

Akhirnya ngidam kami pun terpenuhi. Walaupun yang dimasak adalah SARIMI, yaudahlah yang penting kami makan. Mie rasa kari ayam dengan pemandangan kebun teh sepanjang mata membentang itu udah lebih dari cukup.

IMG_1495
Sarimi kari, bukan kopi joni

Selesei makan dan ngaso sejenak, perjalanan dilanjutkan lagi.

Posisi candi cetho itu benar-benar dibawah kaki gunung lawu, disebelah candi cetho sendiri ada jalur pendakian gunung lawu dengan “bulak peperangan” yang terkenal itu. Konon katanya bulak peperangan adalah tempat pertempuran antara Raden Patah dan Brawijaya.

Setelah lumayan lama motor melaju, akhirnya kami sampai di kawasan candi Cetho, sepertinya tidak ada jalan keatas lagi, jalan itu berakhir disini. Artinya candi cetho berada di tempat yang paling tinggi. Mirip sama gedong songo kali ya.

IMG_1517

Candi cetho sendiri adalah tempat yang sakral dan tempat beribadah bagi orang-orang hindu. Kami masuk membayar registrasi lalu diberi semacam kain untuk dikenakan. Kainnya lucu unyu-unyu gitu sih.

IMG_1533

Kawasan candi ini ga terlalu luas seperti prambanan, borobudur atau ratu boko. Tapi karena berada di ketinggian, candi cetho ini punya pesonanya sendiri.

IMG_1550

Sudah cukup lama explorasi candi, Lidya sudah mulai bosan. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Tepat jam setengah tiga kita pulang dari candi cetho, karanganyar (ujung) menuju karanganyar – solo – boyolali – salatiga – ungaran – dan semarang. Lelah, capek, hari sudah mulai gelap dan hujan mulai turun. Dengan kecepatan Ghost Rider, kamipun sampai di Semarang jam setengah 7 lebih.

Yak, begitulah perjalanan (manis) menenangkan hati pasca patah hati. Capek iya, buang-buang uang ? tentu. Ngabisin tenaga ? sudah pasti..

Tapi pengalamannya itu yang akan terukir ga tergantikan.
 

One Reply to “Hari ke dua ; Air Terjun Jumog dan Candi Cetho”

  1. […] efek dari perjalanan sebelumnya, pergi ke Bandung tanpa semangat yang menggebu-gebu mau kesini dan mau kesana, yaudah deh ke […]

Leave a Reply