Gusti Ora Sare

Dulu, ada tokoh yang sangat terkenal dan kontroversial mengatakan “Gusti Ora Sare” yang berarti bahwa Tuhan (itu) tidak tidur, harus diralat karena frasa yang benar dalam bahasa jawa adalah ”Gusti Mboten Sare”. Pernyataan diungkapkan karena sang tokoh merasa “dikriminalisasi” oleh banyak pihak yang punya kepentingan dan tentunya pihak yang tidak suka kepadanya. Setelah diserang berbagai penjuru dengan bermacam cara, akhirnya ada “celah” untuk menjatuhkannya. Rasanya dunia tidak adil, tapi saat perasaan ketidakadilan itu menghantuinya, beliau mengatakan bahwa “Tuhan tidak tidur”.

Sering sekali kita melihat orang-orang yang berkamuflase dengan mengatasnamakan Tuhan, seolah-olah dia adalah wakil Tuhan di bumi. Mereka menggunakan ayat-ayat suci hanya untuk kepentingannya sendiri. Tuhan dijadikan sebagai eksistensi untuk mencapai tujuan sendiri atau kelompoknya.

Tapi sebenarnya Tuhan mana yang mereka maksud ? Karena keberadaan Tuhan itu sendiri tidak bisa dilihat oleh mata fisik manusia. Sehingga ada suatu distorsi yang berbahaya bagi entitas kehidupan manusia itu sendiri.

Ada Tuhan yang benar-benar menciptakan semesta, menjadikan manusia dan memiliki kuasa atas dunia. Selain itu, ada juga tuhan-tuhan kecil yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Bagaimana cara membedakan bahwa Tuhan yang kita temui dan kenal adalah Tuhan yang menciptakan semesta bukan tuhan yang diciptakan manusia ?

Ada dua hal mendasar yang menjadi panduan untuk mengetahui hal itu ; “Kebenaran dan Kehidupan”

Kebenaran adalah suatu fakta keadaan yang tidak bisa dibantah lagi, dalam hal inilah banyak terjadi miss understanding antara pengikut dan ayat-ayat suci. Banyak yang menerjemahkan ayat-ayat suci secara literal apa yang tertulis tanpa melihat bagaimana ayat-ayat tersebut diturunkan. Tanpa melihat konteks ayat diturunkan akan menghasilkan multitafsir yang sangat berbahaya. Tafsiran yang salah, lalu dipercaya sebagai perintah yang empunya kuasa akan menghasilkan kekacauan demi kekacauan.

Penting sekali menafsirkan bagaimana ayat itu diturunkan. teks ayat-ayat suci tanpa konteks hanyalah kata-kata dalam ruang hampa belaka. Kita musti memahami bagaimana konteks dari sebuah ayat suci; bagaimana ayat itu bisa diturunkan, situasi apa yang sedang terjadi pada masa tersebut, bagaimana relevansinya dengan keadaan sekarang ini.

Saat kita melihat konteks dan makna kebenarannya, saat itulah kita sedang memahami esensi Tuhan yang sebenarnya dalam hati kita.

Yang kedua adalah perihal kehidupan.

Ironisnya, Tuhan yang menciptakan kehidupan mengapa malah manusia yang hendak menghabiskan kehidupan orang lain atas nama Tuhan (?), Banyak sekali orang-orang yang mengatas-namakan Tuhan justru merenggut hak manusia untuk hidup. Dasar berkehidupan sendiri merupakan yang paling mudah namun terikat sulit dijejaki dalam manusia. Karena sering kali kehidupan antar-manusia harus bersinggungan dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Menciptakan ruang untuk bertumbuhnya lini-lini kehidupan itu lebih mulia daripada menghakimi bagaimana manusia itu harus hidup. Memberi kesempatan untuk hidup yang layak itu baik ketimbang menilai hidup saya lebih baik dari mereka. Berjuang untuk membela orang-orang yang hak kehidupannya direnggut itu sangat dihormati daripada memilah-milah siapa yang menjadi kelompok saya dan siapa yang bukan.

Ketika kebenaran dan kehidupan sudah menjadi satu dan melebur dalam jiwa manusia, maka esensi Tuhan yang menjadi pemilik semesta bisa kita hadirkan dalam hidup kita.

Ketika kebenaran dan kehidupan sudah menjadi dasar bagaimana manusia itu hidup, tidak terlalu sulit bagi Tuhan untuk menaungi umatnya.

Ketika kebenaran dan kehidupan menjadi bagian dari perjuangan kita, maka kita akan tahu kalau “Gusti ora Sare”

One Reply to “Gusti Ora Sare”

Leave a Reply