FRAMING

Beberapa bulan terakhir, gue sengaja melakukan framing di semua akun sosial media gue, twitter, instagram dan line. Framing (menurut gue) adalah sebuah usaha untuk mengendalikan tentang apa-apa saya yang ingin kita posting di sosial, artinya ada unsur kesengajaan untuk membentuk persepsi publik tentang diri kita di dunia netijen.

Ya memang di sosial media kita mempunyai kebebasan untuk memposting apa saja yang kita mau, apalagi ditambah dengan kebutuhan aktualisasi diri, gaya dan gengsi yang semakin meningkat, kadang membuat kita tidak mempunyai kendali atas apa yang akan orang lain lihat. tapi rasanya (menurut gue lagi) jauh lebih menyenangkan kalo kita punya kendali tentang apa aja yang ingin orang lain liat tentang kita, toh ini cuma sosial media, don’t be over serious, do you.

Pernah, pada suatu waktu, gue dan Nasia mengupload photo berdua di instagram, dengan caption penuh kode keabu-abuan. Sontak tanpa perlu waktu lama asumsi-asumsi jahat itu mulai terbentuk, baik gue dan Nasia diserbu dengan pelbagai pertanyaan dan ucapan selamat.

poto aja dulu_170511_0006
caption ; poto aja dulu, siapa tau jadi

Gih. . . jadian sama Nasia ya ?

Wih. . selamat ya, mirip loh, kalian jodoh.

Hanya orang-orang yang paling deket dari kami lah yang responnya dingin atas ‘ulah’ kami.

“Ah elah, Kak Gigih ini” celetuk seorang yang suka curhat sama gue. Orang-orang yang bener-bener dekat dan kenal gue tanpa harus gue jelasin udah tau kalau gue ga ada hubungan “khusus” dengan Nasia.

Dari kejadian ini gue bisa menyimpulkan beberapa hal

  • Kadang orang merasa sudah kenal dengan kita hanya lewat dari postingan instagram saja (gue akuin, gue dulu juga gini) bukan dari sebuah relasi yang memiliki nilai.
  • Judgement dan assumtion itu mudah sekali terbentuk, hanya perlu satu trigger maka perspecktive orang lain tentang kita akan berubah cepat  tanpa meminta konfirmasi dari kita.

So, mulailah bijak dengan bersosiel media, dalam hidup ini, penting banget kalo kita punya self control yang baik dan jangan  terlalu cepat berasumsi dan mengambil kesimpulan tentang orang lain, karena pada dasarnya asumsi itu jahat.

In other side. . .  salah satu framing yang gue lakukan adalah membuat konten-konten sosiel media gue bersih dari hal-hal yang berbau “rohani”.

Untuk orang-orang yang udah kenal gue sejak 2011 pasti tau gue tipe orang yang seperti apa, level relijius  gue udah sampai mana LOL.

Tapi akhir-akhir ini gue berusaha menghilangkan citra yang (tak sengaja) udah terbangun bertahun-tahun dalam hidup gue. Walaupun kadang juga sesekali khilaf, gue berusaha supaya Instagram Story, twitter, line gue BEBAS dari :

–  penggalan ayat Alkitab,
– video musik rohani,
– cuplikan kotbah,
– quote hamba Tuhan,
– rekaman main musik rohani,
– capturean buku rohani atau 
– hasil dari saat teduh.
– etc

Timeline LINE gue pun sudah ga ada petikan kotbah dari Jose Carol atau Jeffrey Rachmat lagi. Instagram story gue pun akhirnya berisi hal-hal yang bersifat nyinyir dan untuk lucu-lucuan aja. Twitter dengan status yang sedikit agak mendayu dan Line yang sebagai media penyimpan informasi-informasi yang menurut gue bagus dan menarik.

Pada akhirnya gue sadari, sebuah keyakinan itu seperti dapur yang membuat sebuah masakan, ga perlu diumbar-umbar yan penting ‘makanan’ yang kamu sajikan itu baik, enak dan menyehatkan.

Yang kedua, semua manusia itu butuh aktualisasi diri, dan sosial media adalah wadah yang paling efektif untuk mencurahkan kebutuhan aktualisasi diri. Setelah bermeditasi diri akhirnya gue menyimpulkan kadang kita ga bisa membedakan apakah kita benar-benar ingin sharing atau kita hanya sekedar ingin diakui kalau kita adalah orang dengan tingkat religiusan yang mumpuni.

Apakah kita benar-benar ingin menyaksikan tentang kebaikan Tuhan atau hanya ingin sekedar memberi tempat pada ego kita saja ?

Tentang hal ini tentu saja orang lain tidak bisa menjawabnya, hanya kamu dan Tuhanlah yang tahu isi hatimu. Ini cuma hasil dari pengalaman dan perenungan pribadi gue.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi. . . .
– Matius 6:6a

Gue lebih suka disebut nakal, sesat, pemberontak atau ungkapan negatif lainnya tapi tentang HPDT gue memilih untuk egois, berbagi dalam diskusi dan cerita bukan dalam sebuah story instagram.

Menurut gue, daripada post hal-hal begituan (rohani) di instagram story, mending kita ketemu dan berdiskusi dan sharing tentang pandang-pandangan kita tentang hal ini, and i’ll guarantee you this is more interesting.

 

Leave a Reply