Dua Garis Biru: Karena Hidup Bukan Hanya Tentang Aku dan Kamu | Film Review

Kalau ada dua film Indonesia yang sangat bagus dan mengambil setting Indonesian Culture yang beneran relatable dengan lingkungan kita saat ini, sudah pasti gue mau bilang film Keluarga Cemara dari Visinema dan yang sedang tayang film Dua Garis Biru yang diproduksi Star Vision. Kedua film ini  sama-sama dibintangi oleh Zara JKT48 yang cantik dan manisnya aduhaiw wakhasdasdaso.

Zara JKT48

Awalnya trailer film Dua Garis Biru dianggap kontroversi bahkan dibuatkan petisi untuk digagalkan penayangannya, karena dianggap film yang tidak mendidik dan mengajak generasi muda sekarang untuk masuk dalam pergaulan bebas, sex bebas, berenang gaya bebas, semua hal bebaslah.

Padahal petisi itu dibuat dari melihat trailer film dan juga judul film Dua Garis Biru, yang identik dengan tespek positif hamil, lah iya 🙂

Perdana tayang film Dua Garis Biru pun mendapat masukan yang sangat positif dari para penontonnya, bagaimana tidak, hanya membutuhkan waktu enam hari film Dua Garis Biru bisa mencapai 1 juta penonton, sebuah pencapaian terbaik dari Star Vision sejauh ini.

Awalnya sih gue belum tertarik, tapi melihat review orang di Twitter dan juga Youtube, kok kayaknya menarik banget. Sampai tahu bahwa Gina S Noer untuk buat film ini butuh waktu riset selama 10 tahun dan wow seniat itu ternyata, dua kali waktu dari kuliah gue yang sering ga gue seriusin dipake sama Gina S Noer buat nyeriusin satu film selama itu. Malu anjir.

Kalau riset film Keluarga Cemara yang membutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk intervew 150 keluarga udah menghasilkan film yang benar-benar berkesan, waktu 10 tahun untuk riset, buat gue more than enough la.

Akhirnya, kemarin mumpung libur kerja dan magabut, diputuskan untuk milih nonton film Dua Garis Biru ini.

Okay here we goooo. . . . .There is no spoiler here, you’re safe

Adegan film ini dibuka di sebuah ruang kelas dengan Dara (Zara JKT48),  Bima (anying gue lupa nama asli na) dan bersama teman-temannya pada saat-saat hendak usai pelajaran.

Dara yang (anggap aja) berpacaran dengan Bima, pulang sekolah bareng dan mereka ke rumah Dara. Kemudian adegan dilanjutkan dengan Zara dan Bima, manja-manjaan ngehe, terus bermain-main layaknya anak SMA saat ini seperti rias-riasan wajah terus main Lego sampe jam dua pagi 🙂, sampai di satu titik dan momen yang dirasa tepat (kairos) mereka melakukan hal yang dianggap terlarang dilakukan di negeri ini; mendirikan gereja.

Gina S Noer sepertinya punya keresahan yang serius dengan isu ini, jadi film yang dibuat pun gak kaleng-kaleng alias mantep bener. Dua Garis Biru mengangkat beberapa topik yang dalem tentang kehidupan orang-orang di Indonesia, dan bahkan berani mengangkat topik yang masih tabu di banyak kalangan masyarakat kita sekarang ini, seperti edukasi sex ini dan mendirikan gereja.

Selama ini, sebagian besar masyarakat di lingkungan kita cuma tahu edukasi sex itu sejauh pengetahuan alat-alat reproduksi baik pria dan wanita saja, which is kita semua tahu karena itu ada di tubuh kita, tapi mereka masih belum paham tentang bahaya kehamilan dini, risiko beban tubuh dan penyakit yang dialami oleh perempuan bila hamil di usia yang masih terlalu muda, sampai biaya melahirkan VIP, biaya sekolah anak, biaya menghindari bacotan tetangga yang wadidawabngstwkagakfahksaa.

Dua Garis Biru

Jangankan mengetahui hal-hal tersebut, sekarang aja masih banyak perempuan yang umurnya sudah beranjak dewasa masih belum ngerti kalau “buang di dalem” bisa menyebabkan kehamilan, sedangkan laki-laki mah udah dari SMP tau film bokep –”

Jangankan itu, dulu sempet ramai dan viral di Facebook tentang perempuan yang percaya kalau sperma bisa nembus pori-pori perempuan ketika di kolam renang dan bisa menyebabkan kehamilan 🙂

Sebagian kita denger hal itu merespon apaan banget sih ini harusnya mereka dah ngerti, but itu yang terjadi di negeri kita ini.

Sudah seharusnya, literasi tentang  edukasi sex ini benar-benar jadi konsen yang serius bukan cuma buat Gina S Noer saja, tapi kita semua.

At least kalau kamu mau ewe ena, pake pengaman lah, jan mau digobloin sama laki-laki bangsat nan bajingan.

Selain itu, film Dua Garis Biru ini bukan hanya sekedar tentang film parenting yang ala-ala, lebih dari itu, tapi bagaimana orang tua menghandle dan menyelesaikan masalah “serius” yang dihadapi oleh anak-anak mereka yang sengaja tapi bego melakukan hal tersebut. Ya kalau ga bego sih film ini ga bakalan ada wkwkwkwkw.

Turun naik dinamika orang tua Dara dan Bima ini, bener-bener seperti bagaimana orang tua di Indonesia mencari jalan keluar yang benar, ironisnya masih banyak orang tua yang lepas tangan dan bahkan mencari penyelesaian yang keliru nantinya.

Bagaimana keluarga Dara dan Bima menyikapi permasalahan ini pun kena banget, apalagi scene waktu di UKS, itu yang paling dabest. Dalam satu frame memperlihatkan bagaimana orang tua Dara dan orang tua Bima “mengurus” anak mereka secara terpisah.

Selain disuguhkan dengan teknik one take shoot yang aduhai yang bikin gue secara reflek bilang “anjir keren banget,” tapi bagaimana dua orang tua dari latar belakang lingkungan yang berbeda menyikapi anak mereka ini bener-bener yang gila keren na.

Salah satu adegan yang menurut gue jadi puncak ketika mama Dara bilang “Kamu pikir gampang jadi orang tua? Saya aja gagal.” Jleb atuuh, itu sakit sesakitnya bagaimana kita ga bisa bohongin diri sendiri. Lulu Tobing juara banget berperan sebagai mamah hits yang sayang sama anaknya tapi di waktu yang sama merasa gagal jadi seorang ibu.

Ditambah peran-peran tokoh yang lain juga terlihat sangat smooth, jadi kita dibawa tidak melihat sebuah film namun menjadi pihak ketiga yang serba tahu seolah-olah jadi bagian dari film ini.

Dua Garis Biru

Buat gue, film ini too dark, too bitter, too real. Pedih dan sakitnya kerasa banget, karena emang relatable dengan orang-orang yang ada di lingkungan gue dimana berada di batas antara orang konservatif dan bebas lepas di udara.

Sangking bitternya, jokes-jokes yang ada di film ini yang sebenarnya bagus banget ga bikin gue ketawa malah jadi gamang hambar gitu anjir, padahal hampir seluruh penonton di bioskop ketawa.

Beberapa kali gue refleks pasang ekspresi muka getir karena kalau-kalau ini beneran terjadi di dunia nyata, betapa beratnya beban yang harus ditanggung, dari beban mental hingga beban fisik.

Delivery cerita film ini juga bagus banget, dengan durasi dua jam yang sebenernya panjang film ini ga kerasa banget karena letupan-letupan konflik dan komedi yang diselipkannya. Belum lagi delivery cerita yang dipadukan shoot-shoot epic yang memanjakan mata ditambah skoring film yang ga perlu diragukan lagi lah.

Kekurangan/kelemahan film ini, mungkin ada dua, pertama adalah salah satu skoringnya yang memakai lagu Banda Neira yang berjudul Rindu, lagu ini sebenarnya musikalisasi dari puisi Subagio Sastrowardoyo, buat kamu yang tahu latar dibalik pembuatan puisi ini akan sedikit mengerenyitkan dahi, karena konteks musikalisasi puisi dengan penggambaran peristiwa di film Dua Garis Biru itu ga nyambung blas, tapi buat mereka yang ga tau akan terasa fine-fine aja.

Dan yang kedua, di film ini jumping scene nya terasa banget, secara tiba-tiba loh kok udah sampe di bagian ini saja, ada pemangkasan timeline tapi ga terlalu fatal sih, karena jalan ceritanya masih nyambung dengan sedikit pemaksaan di logika kamu.

Film ini layak ditonton, biar kamu ngerti kalau hidup itu ga sekadar ewe ena aja, tapi ada konsekuensi dan tanggung jawab serius yang harus kamu tanggung dari setiap tindakan kamu, seperti mendirikan gereja.

Leave a Reply