Distorsi : Bukan seberapa tinggi tingkat “relijiusitasmu”, tapi seberapa jujur kamu dengan dirimu sendiri.

Fenomena di era pergerakan zaman yang begitu cepat, dimana akses komunikasi dan tingkat kecanggihan teknologi semakin massive, namun tidak diimbangi dengan kesiapan manusianya mengakibatkan sebuah degradasi psikologis bagi manusia. Degradasi ini memaparkan adanya perbedaan yang mencolok keadaan jiwa manusia yang belum terpapar teknologi yang canggih dengan era setidaknya dengan millenials hingga generasi alpha one sekarang ini. Perbedaan yang disebabkan ketidakseimbangan proses adaptasi dengan lingkungan teknologi dan mulai memudarnya nilai-nilai local wisdom yang sebenarnya baik untuk membangun manusia. Fenomena sosial media contohnya, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, dimana dalam satu hari kita bisa mungkin ratusan kali untuk membuka aplikasi instagram, dimanapun, kapanpun, bersama siapapun. Hingga kadang kita lupa dengan keberadaan orang-orang di sekitar kita. Tidak hanya itu, karena terlalu sibuk kita dengan dunia ‘smartphone’ kita selalu mencoba ingin tahu apa yang terjadi jauh diluar sana, tanpa sadar apa yang sedang terjadi dengan dirinya sendiri ; kesepian.

alone-beach-black-and-white-702264
Feeling alone (Source : Pexels.com)

Kesepian adalah salah satu kondisi yang harus diwaspadai di zaman sekarang, berbeda era terdahulu, tingkat kesepian ini jauh dibawah dibandingkan dengan sekarang ini, kenapa ? karena orang-orang tua dahulu tidak disibukkan dengan smartphone nya masing-masing, karena perkembangan dan tingkat kecanggihannya tidak sebesar ini. Komunikasi langsung antar manusia yang dahulu adalah sesuatu yang wajar dan biasa kini menjadi hal yang paling mahal nilainya. Pembicaraan-pembicaraan yang bersifat intim menjadi kurang, hubungan-hubungan yang sehat digantikan dengan hubungan yang berpura-pura seolah semuanya baik dengan ditunjukkan di story instagram masing-masing.

Kesepian sendiri adalah satu dari permasalahan yang dihasilkan dari jiwa yang rentan rusak. Tidak hanya kesepian, masih ada beberapa output yang berbahaya lagi seperti narsistik, egoism, dan beberapa disorder lainnya.

Kita sekarang menghadapi sebuah fenomena dari persoalan kompleks atas berbagai macam disiplin ilmu, psikologis, sosiologis dan antropologis. Permasalahan tentang rentannya jiwa manusia yang tidak siap dengan perubahan yang ekstrim dan juga masuk dalam aliran kemajuan teknologi mengakibatkan timbulnya permasalahan sosiologis, manusia dengan lingkungannya, hingga berada ditahap goyahnya peradaban manusia itu sendiri.

Saat ini kita hanya masuk dalam perenungan kedalam kondisi psikologis manusia. Dua topik lainnya akan ada dalam pembahasan berikutnya.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, fenomena dari tingkat kesepian manusia yang semakin tinggi diakibatkan karena rentannya jiwa manusia dan tidak sanggup beradaptasi dengan teknologi dan lingkungannya,

Dan fenomena ini sebenarnya menuju kearah yang lebih berbahaya, beberapa negara sudah melihat dan memutuskan negara harus turut andil dalam menangani persoalan ini, seperti Arab Saudi menunjuk menteri yang mengurusi masalah kebahagian, sedangkan PM Inggris, Theresia May menunjuk menteri kesepian, ini serius, bukan lelucon. Indonesia sendiri belum bisa mencapai kesana, karena masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Tapi keadaan manusianya sendiri sudah mengarah menuju sana, hidup yang semakin modern diikuti dengan kesepian yang semakin dalam.

adult-black-and-white-close-up-736843.jpg
source : pexels.com

Ada beberapa cara untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan jiwa manusia ini. Untuk orang Indonesia sendiri, salah satu medium yang bisa dipakai adalah agama. Kenapa ? karena narasi hidup sebagian besar manusia Indonesia adalah agama. Tingkat sensitifitas masyarakat dengan agama sangatlah tinggi. Dan mereka sangat berharap agama akan menjadi harapan terakhir bagi mereka untuk menjadi tetap hidup. Apakah salah ? bisa iya bisa tidak, apakah membantu ? bisa tidak bisa iya. Probabilitas akan pengaruh dari agama terhadap jiwa manusia akan selalu ada. Namun besarnya kemungkinan untuk menyelesaikan masalah ini tidak pasti, jiwa manusia sendirilah yang menjadi tolak ukur keberhasilannya.

Agama tentunya sudah banyak membantu kita menjadi sebuah entitas yang murni dari manusia itu sendiri. Tulisan-tulisan dari kitab suci yang ditafsirkan dengan benar akan mengasilkan pandangan yang benar juga, pandangan yang benar akan merubah perilaku seseorang menjadi benar juga. Jadi sangat penting bagi manusia untuk tahu, mengerti dan memahami lebih mendalam tafsiran-tafsiran yang (mungkin) akan membantu mencari sebuah jawaban. Kitab suci, bila difungsikan dengan tepat, bisa menjadi medium yang tepat bagi manusia untuk menyeselaikan permasalahan jiwanya, namun bisa menjadi masalah bila fungsi yang seharusnya menjadi keliru.

Kita bisa melihat ada kekeliruan dari fungsi teks ayat suci dengan pandangan penganutnya. Dan apabila disalahfungsikan, kemungkinan akan terjadi dampak negatif yang lebih besar lagi dari kondisi psikologis seseorang.

Salah fungsi dari penggunaan kitab suci bisa dilihat dari beberapa orang disekitar kita mencoba belajar memahami dari kitab suci yang hanya dipergunakan untuk membenarkan dirinya, mencari dukungan akan masalah dari jiwanya dan mencari pemulihan, sehingga yang terjadi hanya sekedar reformasi, perubahan yang terjadi diluar saja, bukan transformasi. Oleh sebab itu, sekalipun kita mempunyai tampilan yang relijus, tapi tidak akan bisa menutupi bahwa jiwa kita bermasalah. Sehingga tampilan bukan menjadi yang utama, kejujuran terhadap diri sendiri lah yang bisa mentransformasi jiwa kita.

beads-bible-blur-236339
Bible (pexels.com)

Seharusnya, fungsi teks dari kitab suci itu sendiri menjadi cermin untuk diri kita lalu mengungkapkan sebuah pandangan yang akan membentuk pola pikir yang (seharusnya) benar. Pandangan yang membentuk pola berpikir lah yang akan menuntun dan menghasilkan prilaku yang benar juga. Maka, pada permulaannya, narasi penting yang dibutuhkan untuk memperbaiki adalah kejujuran. Fungsi cermin dari kitab suci untuk membaca kondisi jiwa yang sebenarnya akan terasa sangat menyakitkan, namun bisa menyembuhkan. Tidak banyak yang punya kemampuan akan hal ini. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita tahu sebenarnya jiwa kita sedang sakit. Mengakui kita membutuhkan pertolongan dalam penyembuhan itu tidak mudah, menyadari bahwa diperlukan keberanian untuk melihat luka sendiri dan mulai mengambil ‘perban’ untuk membalut bagian-bagian yang terluka. Akan terasa menyakitkan, karena yang dibalut adalah hal yang tak terlihat namun sangat jelas bisa dirasakan.

Setelah kita mampu untuk memahami keadaan jiwa yang sebenarnya, selanjutnya adalah mulai melihat dengan pandangan yang benar, dalam hal ini kitab suci dan peran orang dewasa sangat dibutuhkan. Sehingga kita harus berhati-hati dalam membaca tafsiran, pemikiran dari kitab suci dan sangat selektif dalam memilih orang yang dewasa untuk mengarahkan pada pandangan yang membangun. Namun ada juga beberapa orang yang punya kemampuan untuk membuka pikiran dan membentuk sebuah pandangan yang bisa membantu jiwanya dan membentuk tingkah lakunya. Tipe yang manakah anda ? cobalah jujur dengan diri sendiri.

Hal terakhir, karena narasi yang sedang kita gunakan adalah narasi agama, hal dalam menyembuhkan jiwa yang sangat berbahaya bagi kaum konvensional terlebih konservatif bila mensalaftafsirkan dari sebuah pandangan dan mengambil jalan singkat dari rentannya jiwa manusia untuk rusak.

Banyak yang menyimpulkan bahwa mental disorder adalah efek dari kurangnya seseorang melakukan ritual agama, atau bukti dari jauhnya orang tersebut dengan Penciptanya, sehingga bertobat dan doa adalah jawaban dari permasalahan tersebut. Sorry to say itu adalah statement yang keliru. Doa yang dibutuhkan namun disalahfungsikan tidak akan membuat perbaikan apapun.

camera-collage-photo-18178.jpg
pexels.com

Jangan menggunakan jalan singkat dari penghakiman dan hukuman untuk menyembuhkan, semua butuh proses, luka kecil butuh waktu untuk sembuh apalagi luka yang besar. Luka yang terlihat meninggalkan bekas, apalagi yang tak terlihat, bahkan bekas yang ditinggalkan akan mudah terbuka lagi.

Tidak perlu terlihat relijus untuk menjadi manusia yang lebih baik, penting bagi kita untuk jujur pada diri sendiri.

 
 

2 Replies to “Distorsi : Bukan seberapa tinggi tingkat “relijiusitasmu”, tapi seberapa jujur kamu dengan dirimu sendiri.”

  1. Menjadi religius itu penting karna itu tujuan…
    Artikel ini cukup menarik

    1. Gigih Prayitno says: Reply

      Kembali lagi pada makna apa itu relijius dan tujuan hidup kita masing-masing mas wehehehe

Leave a Reply