DEACTIVE ACCOUNT

maxresdefault

Beberapa hari yang lalu tertrigger sebuah tulisan di line (tapi sekarang tak tahu sekarang tulisannya entah dimana) gue memutuskan untuk deactive account instagram dan facebook. Ga tau ini akan sementara atau selamanya akan deactive account, yang jelas sekarang belum ada alasan yang kuat untuk mengaktifkan kedua akun tersebut, apalagi facebook, almost isinya penuh dengan anak-anak alay yang mudah terprovokasi isu-isu receh. Awalnya gue berpikir nih rang-orang di facebook kok banyakan bego nya, mudah dibodohi dengan “like, share dan ketik amin”, akhirnya gue sadar ternyata yang bego itu gue kenapa masih buka facebook.

Beberapa waktu setelah deactive account (terutama instagram), gue mulai menyadari beberapa hal dan menemukan beberapa fakta yang terjadi dalam diri saya.

  • Gue adalah tipe orang social media addictive, kecanduan tidak bisa jauh dari smartphone, dikit-dikit buka instagram – scroll down – close, lalu buka facebook – scroll down – close – buka twitter – scroll down – close, abis itu BUKA INSTAGRAM LAGI. Belum lagi pas sebelum tidur, sudah ngantuk-ngantuknya, niatnya cuma pengen ngecek+main ig doang, tapi bisa-bisa 3 jam tak terasa hanya sekedar scroll down.
  • Sebagian besar kegunaan sosial media adalah sebagai tempat eksistensi diri. Ada aktualisasi diri dan narsistik didalamnya. Apakah salah melakukan aktualisasi diri ? tentu saja enggak, karena Abraham Maslow mengatakan salah satu unsur kebutuhan manusia adalah kebutuhan ingin diakui, manusia perlu eksistensi diri, mereka butuh ruang untuk memuaskan kebutuhan eksistensi dirinya, lalu muncullah fitur instagram story, belum lagi dengan tag location untuk tempat-tempat keren lainnya. Gue mulai menyadari kecenderungan narsist gue itu besar banget, apalagi kalo lagi gabut. Dan ini narsis ini sangat tidak menyehatkan jiwa.
  • Dari eksistensi diri dan narsistik ini, kita (kebanyakan) mulai memamerkan sosial li(f)e kita, cekrek-cekrek upload. Dan waktu gue dihabiskan cuma buat memamerkan hidup gue dan kepo tentang hidup orang lain, sangat ga guna untuk kemajuan umat Indonesia.

Dulu sempet untuk mengatasi kecanduan gadget, gue nitipin hape ke Ednita selama seminggu. Sebenernya, seminggu ga pegang smartphone, hidup gue tetep baik-baik saja, ya paling agak susah kalo dihubungi sama orang. Gue pribadi sebenernya bisa untuk engga ketergantungan dengan gadget, masalahnya itu ya cuma males aja.

Salah satu keuntungan dari deactive account adalah gue bisa memanfaatkan banyak waktu dengan hal-hal yang lebih berguna, nulis jurnal, banyak baca, banyak belajar. Intensitas pegang hape jadi muai berkurang, interaksi di sosial life juga lebih berkualitas.

Dari sisi kesehatan jiwa juga gue merasa ada perubahan yang lebih bermanfaat, tingkat kecemasan menurun, ga gelisah kalo lagi jauh dari smartphone, bisa berpikir agak panjang, pokoknya banyak deh.

Pada akhirnya kita sendirilah yang harus berbijaksana dengan apa yang ada di hadapan kita.

Leave a Reply