C.A.N.T.I.K

Selesai ibadah kenaikan Isa Almasih kemarin saya menyempatkan meet up dengan Icha,  salah satu adek PMK FIB. Rasanya sudah lama sekali ga ngobrol-ngobrol cantik sama dia. Topik yang dibicarakanpun banyak dan tak kalah menariknya.

“jadi sekarang kamu deket sama siapa ? “ tanya ku
“Loh, kakak ga tau, aku udah punya pacar ?” jawab dia.

Sedikit agak kaget, ternyata selama ini dia udah punya pacar, selama ini gue kemana aja. Hingga akhirnya ceritalah Icha tentang hubungannya dengan kekasihnya, terlihat bersemangat sekali.

Hingga saya mengetahui sesuatu, TERNYATA CEWE ITU STALKER PARAH.

Hasil dari pengamatannya, diceritakanlah wanita yang pernah jadi kekasih pacarnya, dan mulai membanding-bandingkan antara dia dan wanita mantan tersebut.

“Liat deh kak, mantannya cantik banget” katanya sambil memperlihatkan poto wanita itu
“Biasa aja deh cak, ga cantik2 amat” jawabku
“Ih, cantik tau” tekan dia lagi
“Biasa aja, lebih cantikan *sensor* ” lawanku lagi

Hingga akhirnya kita mulai berdebat tentang wanita cantik. Si itu cantiklah, enggaklah, cantiklah, enggaklah.

Hingga akhirnya kita menyadari satu hal, Presepsi tentang cantik diantara kita berbeda. Perspektive kita tentang cantik secara fisik aja sudah berbeda jauh, apalagi cantik yan berdasarkan cantiknya cantik. LOL

Seiring dengan bertambahnya umur gue, dan tingkat kedewasaannya pun terlihat sedikit agak meningkat, walaupun bukan peningkatan yang signifikan, tapi ya bolee lha.

Perjalanan hidup gue cukup melelahkan dari timur ke barat mencari gulungan terakhir kitab suci tentang bagaimana definisi cantik yang sesungguhnya, akhirnya mentok dikafirkan temen sendiri.
Akhirnya perspective gue tentang wanita cantik itupun berubah, yang dulu kalo ada cewe bening dikit aja bisa buat gagal fokus, sekarang mah. . . . . . . . .  masih tetep.

Pertama kali sejak akil baliq di hidup gue, definisi cewe cantik dalam hidup gue ya seperti cowo-cowo berpikiran mesum kebanyakan. Badan sintal kalo bisa semok, wajah cantik, putih, tidak ada degradasi warna antara leher dan wajah.

Gue pun mulai mencoba mendekati ‘wanita cantik tersebut’, namun gue gagal lantaran gue lupa tips terakhir dari tiga trik bagaimana mendekati cewe, tiga tips tersebut adalah berdoa, berusaha dan becermin.

Masa-masa awal perkuliahan, alhamdulilah pikiran gue sudah berangsur-angsur membaik, pandangan cewe cantik yang dulunya liar, sekarang sudah berubah menjadi cewe yang sopan, lemah lembut, tidak sombong, suka menabung dan rajin sholat (If you know wat I mean LOL).

Tetep di tahap ini pun gue gagal lagi dan lagi-lagi karena lupa tips yang terakhir.

Ada masa-masa ketika gue berbalik pada Tuhan, saat-saat menjadi Kristen paling ekstrim dan paling labil yang pernah gue tempuh, lagi-lagi definisi cantik itu berubah lagi. Dulu gue paling seneng dengan cewe dengan sikap ‘menyembah Tuhan’ yang khusuk. Rasanya adeeem gimana gitu ngeliatnya. Belum lagi kalaun dia suka pelayanan di gereja. . .  BEUH, yuk dek kita ke altar sekarang.

Tapi lagi-lagi sikap khusuk saat moment penyembahan itu sebenarnya lebih ke perasaan and feeling is temporary, perasaan itu berubah. Lagi-lagi definisi cantik tidak hanya sekedar itu.

Seusai selesei S1, gue menyempatkan diri untuk ke Pare selama dua bulan. Selama disana banyak banget pengalaman dan pelajaran baru yang gue dapet, sekaligus merubah perspektive yang selama ini sudah terbentuk di pikiran gue.

Di pare juga gue ketemu dengan cewe-cewe yang cantik menurut dirinya sendiri.

NAH. . . THAT’S THE POINT.

Selama ini sebenarnya definisi cantik itu bisa diciptakan dan selalu berubah, tergantung pandangan dan situasi yang ada.

Ada yang berfikir cantik itu harus langsing, berat badan pas, kadar lemak ditubuh tidak terlalu banyak, ukuran dada yang pas mantap. Tapi ada juga yang sudah percaya diri dengan apa ada nya dia, ini gue dan gue ini.

Tidak ada yang salah dengan semua itu, dengan semua definisi cantik yang beragam, semua kembali lagi ke pandangan dan perspektive masing-masing.

Dan ini cantik menurut gue. . . .

Di Pare, gue ketemu Ayu Habibah, anak sastra Indonesia UNJ, asalnya dari Kupang, Nusa tenggara Timur. Honestly, kalau secara fisik menurut gue ya ga terlalu cantik sih. Tapi yang bikin gue salut, ketika kita ngobrol, wawasannya ternyata luas banget, dari ngobrol tentang hubungan anak-anak muda, masalah abroad schoolarship, kebudayaan Eropa, sampai dunia perpolitikan, Ayu yang sangat tergila-gila dengan negara Jerman ini buat gue banyak belajar dari dia.

“Gila, dunia pengetahuan wawasannya luas banget” pikir gue dalem hati.

 Cara dia bercerita dan memaparkan pendapatnya pun sopan, menarik, tidak lebay, dan tidak menggurui. Secara fisik mungkin dia kurang, tapi untuk hal yang lain dia punya banyak nilai plus.

Terus gue juga kenal dengan Azizah, anak komunikasi, salah satu temen yang paling enak kalo diajak sharing, cerita, curhat, suka travelling, belum lagi terlihat sosok keibuannya, ramah dan humble, bukan tipe orang yang neko-neko, dia terlihat cantik dengan menjadi dirinya sendiri.

Ada lagi, namanya Novi, teman satu tim ketika kami KKN di demak beberapa tahun yang lalu, lihat sikap dia yang mandiri, mau bekerja keras, kreatif, tak pernah menyerah dan rasa sayangnya sama Mas Pandu (pacarnya), buat gue sampe pernah bilang ”Nov, mas Pandu beruntung banget punya kamu”.

Dan tentunya masih banyak cewe-cewe cantik lainnya yang gue kenal.

They look beautiful cause be best version of themselves.

Terlihat cantik secara fisik itu bukan tidak penting, tapi bukan yang terutama. Banyak juga yang gue kenal sorry to say, secara penampilannya sih cantik, tapi ketika ngobrol yang dia perbincangankan cuma gosipin tentang orang-orang di sekitarnya dan sepaket dengan keluhan yang dia hadapi tentunya. Ada juga yang sudah dianugerahkan Tuhan punya paras yang menawan, namun sikap bawelnya, duh tiada ampun.

Cowo mana sih yang akan tahan dengan tipe wanita seperti itu ?

Tak usahlah ingin terlihat seperti orang lain. Jadi dirimu sendiri dan beryukur atas apa yang ada dalam hidupmu itu sudah jadi bagian yang cantik.

Kecantikan fisik itu hanya bertahan sebatas first impression, tanpa diiringi dengan wawasan yang luas dan kecakapan bersikap, semua yang sudah kamu bangun ya sia-sia saja.

Daripada selalu memoles wajah agar terlihat menarik, cobalah sesekali untuk tambahkan ruang-ruang baca dan pokok-pokok pikiran di otakmu.

Berhenti membandingkan dengan mantan pacar atau wanita manapun, mulai berbenah diri attitude mana yang harus diperbaiki. Para laki-laki dewasa juga suka mengintropeksi diri sendiri dan belajar bagaimana seharusnya bersikap. Para seleb-seleb yang banyak bercerai itu bukan karena mereka kurang cantik atau kurang ganteng, tapi karena faktor attitude yang buruk aja.

dan terakhir

Tingkatkan kecintaanmu kepada Sang Pencipta, sebelum kamu bersiap dicintai oleh laki-laki, tanpa mengenal cintaNya Tuhan sebenarnya kamu belum mengenal cinta yang sesungguhnya.

Ingat hukum siapa menarik siapa, perspektive cantik yang kamu buat akan menarik laki-laki yang memiliki perspektive yang sama.

Dan kami para lelaki, tentunya akan benar-benar memperhatikan siapa yang benar-benar bisa menjadi ibu untuk anak-anak kami kelak.

Leave a Reply