Buku, antara Aku dan Imajinasi tentang Kamu

Unsplash/nicolehoneywill

Banyak orang yang menyangka aku adalah seorang penggila buku, suka membaca, suka menulis, suka traveling, suka-suka sendiri. Padahal pernyataan itu tidak sepenuh benar, hanya mendekati tepat bukan berarti selalu tepat. Berulang kali ku bilang kalau boleh milih, aku lebih suka tidur dan menghabiskan banyak waktu di kasur daripada harus baca dan nulis.

Bahkan biasanya kalau habis dari traveling entah itu pergi ke pantai apalagi gunung, atau jalan-jalan ke suatu kota, besoknya aku bisa seharian di kamar ‘bed rest’ tanpa apa-apa. Ya benar guling-guling and leyeh-leyeh is my animal spirit.

Tapi berada di kamar seharian dan berjam-jam juga kadang bikin bosan dan muak sih. Jadi harus ada variasi kegiatan yang dilakukan, dan yang paling menyenangkan adalah pergi ke dimensi yang berbeda melalui buku.

i read like the ink from the book is oxygen and i’m gasping for breath | Reyuni

Dengan buku aku bisa keluar sejenak dari realita yang sering menyiksa dan masuk dalam dunia baru, dengan kekuatan imajinasi itu sendiri, buku bisa mengasah rasa, simpati dan emosi dan hati.

Selain itu dari membaca buku aku juga lebih sering menahan diri dan tidak reaktif akan segala sesuatu yang lagi viral dan booming, dengan membaca kamu secara tidak langsung akan belajar untuk lebih kritis dan menguraikan masalah menjadi bagian-bagian kecil sebelum mengambil keputusan, terkesan lamban namun efektif, kamu juga akan belajar untuk berpikir lebih sistematis sehingga tidak ada missing link, dalam cara kamu menyimpulkan sesuatu.

Sering kali kita selalu menyimpulkan sesuatu dari semua yang terjadi tanpa ada proses yang terjadi, dari titik A langsung ke Z, padahal kita perlu mengetahui hal-hal B, C, D, E dan seterusnya.

Terlihat simpel, tapi ternyata buku punya banyak fungsi dan kegunaan yang baik untuk kita sebagai manusia.

Tidak usah mengglorifikasi apalagi meromantisasi buku dan membaca, seperti Hatta yang bilang mau dipenjara asalkan bersama buku, kita sadar kita tidak (belum) sehebat itu. Atau orang-orang yang punya pengaruh besar dengan dan karena buku. Kamu cukup jatuh cinta dengan nya saja itu lebih dari cukup.

Reyuniadelina
A room without books is like a body without a soul – Marcus Tullius Cicero

Buat mereka yang merasa buku dan membaca itu sesuatu kebutuhan, tidak akan over-glorifikasi dan meromantisasi hal tersebut secara berlebihan, bukan berarti merendahkan makna tersebut.

Sama seperti makan kita tidak perlu menganggap makanan begitu mempesona dan menyebarkan ke banyak orang setiap saat di semua tempat, udah kaya agama aja. Cukup duduk diam dan menikmati nasi padang dengan gulai santan lengkap yang penuh dengan kolestrol itu ditambah rendang dan otak-otaknya sudah berasa surga yang disembunyikan dalam ibadah diam-diam.

Kamu dan buku bisa membuat kamu lebih menikmati waktu-waktu sendiri. Berkontemplasi sekaligus meditasi tentang nilai-nilai yang seharusnya kamu tanamkan dalam dirimu. Buku bisa jadi pemicu yang elegan untuk kamu bisa menjadi lebih hidup.

Ig/Reyuniadelina
Fairy tales are more than true: not because they tell us that dragons exist, but because they tell us that dragons can be beaten – Neil Gaiman, Coraline

Dengan buku kita menembus dunia yang terbatas, hanya kamu sendiri yang membatasinya.

Bagaimana Membaca Buku yang Efektif

Terus bagaimana cara bisa membaca buku sampai terakhir? Membaca buku itu berbeda dengan menonton film, kalau menonton film bisa selesai dalam dua jam, tapi tidak dengan membaca.

Membaca itu adalah awal dari kekuatan imajinasi yang dicerna dalam keindahan dan menghadirkan tafsir yang berbeda-beda tiap pembacanya. Tokoh yang sama dalam novel yang sama juga bisa menghasilkan penggambaran yang berbeda di masing-masing pembaca.

Membaca buku biasanya menghabiskan waktu lebih dari dua jam, jadi berbeda dengan film.

Tapi ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan lebih dahulu.

Jadi, kecepatan rata-rata orang membaca dalam satu menit sekitar 200 kata per menit, saya sendiri mencoba membaca dengan kecepatan normal sekitar 300-350 kata per menitnya.

Nah dalam satu buku rata-rata memiliki sekitar 45.000 hingga 65.000 kata. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu buku dengan jumlah sekitar 50.000 kata sekitar 4 hingga 5 jam.

Jadi anggap saja satu buah buku bisa habis dibaca dalam 5 jam. Tentu saja duduk diam selama lima jam membaca buku ditemani kopi dengan lagu indie beriringan matahari yang terbenam di barat juga membuat kamu muak.

Untuk mengatasi hal itu, kamu bisa membagi-bagi per bagian dan cukup meluangkan 45 menit sehari. Maka satu buku bisa kamu baca hanya dalam waktu seminggu dan sebulan bisa membaca habis empat buku.

Belum lagi kalau kamu bisa menghabiskan 90 menit untuk membaca buku, 45 menit pada pagi hari dan 45 menit pada malam hari, jadi satu buku sekitar 50 ribu kata bisa habis dalam 3-4 hari saja.

90 Menit itu bukan jumlah yang seberapa dibanding dengan skrol-skrol timeline Instagram yang sebenarnya itu-itu saja. Toh yang ini lebih berkualitas.

Jadi dengan begitu apa yang awalnya kita rasa berat ternyata bisa diuraikan dan terlihat menjadi lebih mudah. Makan tiga porsi sekaligus berbeda dampaknya dengan makan tiga kali sehari.

Ig/Reyuniadelina
So many books, so little time – Frank Zappa

Buat Membaca Lebih Nyaman

Selain masalah tentang jumlah kata dan kecepatan yang awalnya berat ternyata tidak berat-berat amat, kebanyakan kita punya masalah dengan cara membaca. Sejak SD kita sering membaca kata per kata (dengan bersuara), dan tidak berubah hingga kuliah bahkan sekarang ini. Membaca dengan kata-kata dan menjadi kalimat dengan bersuara membuat otakmu bekerja lebih keras.

Jadi pertama, kamu tak usah membaca dengan bersuara apalagi suara yang keras, apa yang baca melalui mata (tanpa harus bersuara) sebenarnya juga akan diterima olah otak dan diproses sama baiknya dengan bersuara.

Membaca kata per kata akan melelahkan kamu, padahal mata kamu punya jarak yang cukup jauh, jadi mampu menyorot lebih dari kata per kata.Daripada membaca kata per kata kita bisa memilah beberapa kata dalam sekali tatapan yang dilanjutkan ke kata berikutnya dalam bertahap.

Daripada membaca

Ketika

gerakan

mahasiswa

berkecamuk

di

Paris

Dimas

Suryo,

seorang

eksil

politik

Indonesia

Lebih Baik Membaca seperti ini.

Dengan kemampuan jangkauan mata kita, kita bisa memilah-milah beberapa kata menjadi satu gabungan yang terhubung dengan kalimat selanjutnya. Seperti ini:

Ketika gerakan mahasiswa

berkecamuk di Paris,

Dimas Suryo,

seorang eksil politik Indonesia

bertemu Vivienne Deveraux,

mahasiswa yang ikut demonstrasi

melawan pemerintah Prancis.

Pada saat yang sama,

Dimas menerima

kabar dari Jakarta:

Hananto Prawiro, Sahabatnya,

ditangkap tentara

dan dinyatakan tewas.

Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, Sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. (Pulang, Leila S Chudori)

Hal ini tentu tidak melelahkan mata dan otak kita mencerna kata-kata dan diproses menjadi sebuah makna juga semakin cepat. Tentu hal ini harus dibiasakan untuk mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk sejak lama. Akan terasa berat diawal tapi menguntungkan kamu pada akhirnya.

Selamat membaca dan selamat bersenang-senang.

Leave a Reply