Alasan Toxic Relationship justru Bertahan Lebih Lama

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pertanyaan hadir di Twitter yang cukup bikin saya angguk-angguk kepala. akun Twitter bernama @dittameliaa bertanya kenapa orang-orang yang punya toxic relationship itu terlihat lebih long lasting dibandingkan orang yang punya hubungan sehat, bahkan hubungan toxic tersebut bisa sampai tahunan.

Saya mengenal ada banyak pasangan yang usia hubungannya lebih dari 1 atau 2 tahun, tetapi selalu bertengkar karena masalah yang sama, atau ada pasangan yang sangat posesif segala aktivititas pasangannya selalu dipatau 1×24 jam sampai passoword akun sosial media dipegang, pasangan yang suka memaki onjang-anjing-onjang anjing, banyak sih yang begini.

Orang dalam toxic relationship ini secara tidak sadar saling melukai. Tetapi dengan kenyataan seperti itu, kenapa banyak hubungan yang penuh racun itu justru memiliki usia yang lebih panjang.

Ada beberapa orang dari kita yang jadi caregiver, juga “tempat sampah” sampai berada di tahap muak, dan menyerah dengan kondisi teman sendiri yang selalu bercerita tentang hal yang sama berulang-ulang kali.

Tetapi ketika diberi nasehat rasanya tidak pernah didengarkan. Lantas kenapa orang-orang yang masuk dalam toxic relationship tersebut memilih bertahan dalam hubungan mereka sehingga terlihat lebih lama, walaupun tidak ada jaminan terlihat bahagia juga.

1. Savior Syndrom

Like Arsenic, Toxic People Will Slowly Kill You | Unsplash

Savior syndrom ini cukup dikenali dan sangat dekat dengan di lingkungan kita, orang-orang yang percaya dia bisa jadi “penyelamat” untuk pasangannya yang punya karakter yang buruk, sehingga dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan (karakter) pasangannya tersebut.

“Aku percaya kok, kalo aku setia dia bakal berubah jadi lebih baik” statemen-statemen seperti ini sudah sering terdengar di telinga kita sampai bosan. Tapi perubahan tersebut tidak kunjung ada hasilnya, akhirnya Sang Savior tersebut malah penuh dengan luka.

Memang ada orang-orang yang berubah karena pasangannya, namun strategi seperti tidak akan mutlak bekerja 100 persen, mereka yang berharap orang lain untuk berubah akan membutuhkan waktu menunggu yang sangat lama.

Padahal menyelamatkan pasanganmu bukan sepenuhnya tanggung jawabmu, padahal kamu juga bisa terluka akan hal itu.

“Jangan pergi ke hutan yang kering dengan orang yang suka menyalakan api”

2. Stockholm Syndrom

Sometimes Change Is What We Need | Unsplash

Pernah mendengar stockholm syndrom? Stockholm syndrom ini sendiri berdasarkan kejadian nyata perampokan Sveriges Kreditbank di Stockholm, Swedia pada tahun 1973. Perampok bank tersebut, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson dengan menggunakan sandera mereka menyandera karyawan bank tersebut selama lima hari.

Pada saat para sandera tersebut dibebaskan, justru mereka mempunyai reaksi yang diluar dugaan, para sandera malah memeluk dan mencium para perampok tersebut, dari sisi emosional para sandera tersebut justru menyayangi para perampok tersebut dan malahan membela mereka, bahkan ada satu sandera yang justru jatuh cinta dengan salah satu perampok tersebut, dari kejadian itulah ilstilah Stockholm Syndrom dicetuskan oleh kriminolog sekaligus psikiater Nils Bejerot yang membantu pihak kepolisian pada saat terjadi perampokan.

Nah, saat ini stockholm syndrom tersebut menjadi sebuah istilah psikologis dimana para “sandera” menunjukkan tanda-tanda kesetiaannya kepada para penyanderanya, bahkan meskipun ada bahaya yang membayani-bayangi sandera tersebut, namun secara emosional para sandera ini tidak memperdulikan hal tersebut dan justru memilih setia dan menyayangi “perampok’ tersebut.

Tidak ada rincian detail yang akurat kenapa sering terjadi stockholm syndrom ini terjadi pada pasangan-pasangan yang masuk dalam toxic relationship.

Tetapi yang jelas sudah terjadi hubungan emosional yang cukup erat sehingga mengabaikan logika dan keselamatan diri sendiri. Mereka para sandera ini jatuh cinta dan setia dengan perampok mereka meskipun ada banyak hal yang harus dikorbankan dan tentu hubungan ini sangat membahayakan diri mereka sendiri baik secara fisik maupun psikologis.

Savior syndrom hanya bisa diselesaikan dengan kesadaran penuh bahwa ada hal-hal yang tidak baik dalam hubungan mereka.

3. Manipulasi dari Alam Bawah Sadar

Sometimes Change May Not Be What We Want | Unsplash

Alasan ini sangatlah tricky, namun dipungkiri atau tidak psikologi mengatakan hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan video dari dr. Jemi seorang psikiatris, dia berbicara tentang alasan orang-orang yang terjerat dalam toxic relationship. Perspektif baru pun saya dapatkan.

Jadi gini, bila kita berada dalam keluarga yang abussive dan kemudian masuk dalam hubungan yang tidak sehat, penuh dengan makian, kata-kata kasar dan ancaman pembunuhan, itu bukan tanpa alasan.

Secara sadar, kita memang ingin keluar dari jeratan jahat seperti itu, rasanya kondisi hidup yang terus buruk tidak akan pernah bisa berubah menjadi menyenangkan.

Otak kita secara logis memberikan pesan bahwa kamu harus keluar dari “lingkaran setan” yang tidak akan membawa kamu kepada kehidupan yang lebih baik namun malah sebaliknya.

Bila logika kita mengirimkan pesan seperti itu, maka berbeda dengan proyeksi yang diterima oleh alam bawah sadar kita yang berada di amigdala. Alam bawah sadar kita bicara hal yang lain:

“kamu sudah terbiasa dengan lingkungan yang seperti ini, kenapa tidak dilanjutkan saja?”

“Bila kamu keluar dari lingkaran kehidupan “kelam” ini, apakah kamu bisa jamin hidupmu lebih baik? Toh hidupmu sudah sering mengalami kejadian-kejadian ini”

Alam bawah sadar yang manipulatif ini sebenarnya dibentuk oleh pengalaman dan pikiran yang tidak kita sadari. Jadi perlu kesadaran penuh untuk menyadari hal-hal yang tidak kita sadari telah terbentuk dalam alam bawah sadar kita. Kontradiktif sih.

Mengetahui pikiran kita adalah medan perang dan alam bawah sadar adalah lawan kita tentu itu bukan hal yang mudah, karena nyatanya kita harus mengalahkan diri kita sendiri, mengalahkan asumsi-asumsi yang sudah kita buat sendiri. Tentu bukan dalam spektrum yang halu.

4. Self Esteem yang Rendah

Sometimes There Are Things in Life That Aren’t Meant to Stay | Unsplash

Self esteem, atau rasa keberhargaan diri yang rendah akan memicu tingkat insyekuritas yang tinggi. Dan orang yang punya tingkat insecure tinggi tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir jernih.

“Cuma dia yang mau sama gue”

“Omongan tetangga di belakang itu tajem-tajem cuy”

“Kalau bukan sama dia, terus gue sama siapa lagi”

Pertimbangan-pertimbangan inilah yang mentolerir perlakuan pasangan yang jahat bisa diterima. Insecure juga membawa kita tidak sadar bahwa kita mempunyai hubungan yang beracun.

Rendahnya self esteem juga meingkatkan ketakutan kita kalau “tidak laku lagi” akhirnya berada di titik “siapa saja yang mau sama gue, ayuklah.” walaupun nyatanya hal itu akan malah menambah luka di dalam kita.

Keluar dari toxic relationship memang tidak mudah, punya pasangan yang over power untuk mengendalikan semua tentang hidup kita tentu tidak akan membuat hidup semakin nyaman. Padahal antar pasangan harus tahu apa itu privasi dan rahasia.

Mencoba lepas dari jeratan ini membutuhkan usaha yang lebih dari biasanya, emosi yang terkuras juga akan habis-habisan, bahkan rasa sakit yang dihadirkan akan membuat kamu tidak berdaya. Ada beberapa kasus diantara mendapatkan ancaman kekerasan yang masuk dalam ranah kriminal.

Bahkan kamu tidak bisa berjuang lepas dari hal itu sendirian. Bila kamu sadar kamu punya hubungan yang tidak sehat dan ingin keluar dari jeratan itu, at least beritahu orang yang kamu percaya, keluarga, sahabat, agar kamu bisa mendapatkan pertolongan.

Namun sekali lagi, semua tergantung pada dirimu sendiri apakah hidupmu berada dalam hubungan yang baik-baik saja atau tidak. Mau keluar?

Leave a Reply